Sindikat
Kepemimpinan Manajemen Organisasi
KMO
Untuk
memenuhi persyaratan mengikuti Senior Course
HmI Cabang Semarang
Nama : Dwi
Pratiwi Markus
Ttl : Sorong,
08 Januari 1994
Lk 1 : Komisariat Hukum Sultan
Agung semarang
Lk 2 : HmI Cabang Kota Pekalongan
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
CABANG SEMARANG
2014
SINDIKAT
KEPEMIMPINAN
MANAJEMEN ORGANISASI (KMO)
Materi :
Kepemimpinan Manajemen Organisasi
Jenjang :
Latihan Kader I
Alokasi Waktu : 3 jam
Metode :
Ceramah, Diskusi, Dan Tanya Jawab
Bahan :
Maker, Papan Tulis
Evaluasi :Test
Objektif/Subjektif, Penugasan, Dan Membuat
Kuisioner
Kuisioner
Tujuan
Pembelajaran Umum
:Kepemimpinan Mangeman dan Organisasi adalah
salah satu materi wajib yang terdapat dalam HmI
sehingga dalam proses perkaderan perlunya
pemahaman yang benar tentang teori maupun tipe-tipe
kepemimpinan, dengan alasan itulah maka sindikat ini
saya buat bertujuan memberikan pemahaman yang
tepat tentang KMO,
salah satu materi wajib yang terdapat dalam HmI
sehingga dalam proses perkaderan perlunya
pemahaman yang benar tentang teori maupun tipe-tipe
kepemimpinan, dengan alasan itulah maka sindikat ini
saya buat bertujuan memberikan pemahaman yang
tepat tentang KMO,
PENDAHULUAN
Pemimpin adalah orang yang dapat mempengaruhi
atas orang-orang yang di pimpinya untuk mencapai satu tujuan yang sama dalam
organisasi atau perkumpulan tersebut, dalam kepemimpin terdapat beberapa teori
dan tipe-tipe kepemimpnan sehingg seorang pemimpin mampu menempatkan dirinya
dalam posisi serta kondisi apapun itu untuk menyelesaikan suatu permasalahan
ataupun konflik yang ada dalam kelompoknya maupun dalam organisasi yang
dipimpinya.
Kepemimpinan, Manageman dan Organisasi
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sebab seorang pemimpin
dalam memimpin membutuhan keahlian dalam Mengatur dengan baik jalannya
organisasi tersebut agar tidak keluar dari tujuan awal organisasi tersebut.
A
. KEPEMIMPINAN
1.
Pengertian kepemimpinan
Menurut Prof.
Kadermen, SJ dan Drs. Yusuf Udaya mengartikan kepemimpinan sebagai
seni atau proses untuk mempengaruhi dan mengarahkan orang lain agar mereka mau
berusaha mencapai tujuan yang hendak dicapai oleh kelompok.
Manajer tidak
selalu sama dengaan pemimpin. Manajer di tunjuk atau diangkat. Mereka memiliki
kekuasaan yang sah atau legitimate untuk memberikan penghargaan/ balas jasa dan
hukuman. Kemampuannya untuk memberikan pengaruh didasarkan atas kewenagan formal yang tekandung dalam
jabatannya. Dilain pihak, pemimpin biasditunjuk atau muncul dalam suatu
kelompok. Pemimpin bisa memberi pengaruh yang lain untuk melakuan sesuatu tanpa
kewenagan formal.
§
Teori ‘Great Man’ ;
kepemimpinan adalah bakat sejak lahir. “leaders are born”
§
Teori ‘Big Bang’ ; situasi
dan pengikut secara bersama membentuk pemimpin. “leaders are made”
§
Teori yang melihat
kepemimpinan diproduksi oleh tiga faktor utama, yaitu:
1. Bakat yang dibawa sejak lahir.
2. Pendidikan dan pelatihan yang terarah,
intensif, dan
berkelanjutan.
3. Pengalaman langsung menduduki posisi
dan peran
pemimpin.
Di dalam setiap masalah kepemimpinan akan selalu tedapat
adanya 3 unsur:
Ø
Unsur Manusia
Yaitu manusia sebagai pemimpinatau pun manusia sebagai yang
dipimpin.Hubungan manusia itu diatur di dalam situasi kepemimpinan. Bagaimana
mengatur hubungan pemimpinan dengan bawahannya tanpa melupakan bagaimana
seharusnya memperlakukan manusia itu sebagai manusia
Ø
Unsur Sarana
Yaitu segala macam prinsip dan teknik kepemimpinan yang
dipakai dalam pelaksanaannya.Termasuk
bekal pengetahuan dan pengalaman yang menyangkut masalah manusia itu sendiri
dan kelompok manusia.Dasar ilmu pengetahuan yang di gunakan seperti psikologi,
sosiologi, management, dll.
Ø
Unsur tujuan
Yaitu merupakan sarana akhir kearah mana kelompok manusia
akan digerakkan untuk menuju maksud tujuan tertentu.
Ketiga unsur tersebut dalam pelaksanaannya selalu ada
terjalin erat satu sama lain.
Menurut kaum dinamika kelompok, ada beberapa ciri dan
kecakapan umum yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar interaksi kelompok
dapat berjalan lancar dan produktif:
Ø Social perseption(penglihatan sosial)
Yang dimaksud Social Perceptionialah kecakapan untuk dapat
melihatdan memahami akan perasaan-perasaan, sikap-sikap dan kebutuhan-kebutuhan
anggota kelompoknya
Ø
Ability in abstraction
thinking(kecerdasan yang tinggi)
Yaitu para pemimpin kelompok harus mempunyai kecakapan untuk
berfikir secara abstrak yang lebih tinggi dari anggota-anggota kelompok yang
dia pimpin.
Ø
Emotional stability(keseimbangan
alam perasaan)
Yaitu bahwa keseimbangan perasaan (emotional) merupakan
faktor penting dalam memimpin, sebab apabila seorang pemimpin mempunyai
emotional Quetion yang tinggi dia cenderung akan bisa memotivasi dan meberikan
daya juang yang tinggi agar anggotanya dan organisasinya menuju kesuksesan.
Menurut William Foote Whyte menyebutkan ada 4 faktor yang
menentukan seseorang menjadi pemimpin:
Ø Operational Leadership
orang yang paling
banyak inisiatif, dapat menarik dan dinamis, menunjukkan pengabdian yang tulus,
serta menunjukkan prestasi kerja yang baik dalam kelompoknya adalah salah satu
faktor yang membuat seseorang menjadi pemimpin.
Ø Popularity
Orang yang banyak
dikenal mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk menjadi pemimpin.
Ø The assumed representative
Orang yang dapat
mewakili kelompoknya memiliki kesempatan besar untuk menjadi pemimpin
Ø The prominent talent
Seseorang yang
memiliki bakat kecakapan yang menonjol dalam kelompoknya mempunyai kesempatan
untuk menjadi pemimpin.
2. Hubungan pemimpin dengan anggota
Pada umumnya tugas pemimpin adalah mengusahakan
agar kelompok yang dipimpinnya dapat merealisasi tujuannya dengan
sebaik-baiknya dalam kerja sama yang produktif. Walaupun semua orang
mempunyai tujuan yang sama, namun mereka berbeda-beda dalam memandang mengenai
keadaan kelompoknya dan mengenai tugasnya masing-masing.
Maka pemimpin
harus bisa mengintergrasikan pandangan-pandangan anggota kelompoknya tersebut,
baik mengenai situasi di dalam maupun di luar, sehingga dapat diterima semua
anggota kelompok yang bersangkutan.
Disni akan
disebutkan beberapa sifat pemimpin, di antaranya:
1)
Cakap
Disini cakap dalam pandangan luas, bukan saja keahlian
(skill) atau kemahiran teknik (Technical Mastery) dalam suatu bidang tertentu,
tetapi meliputi hal-hal yang abstrak, inisiatif, konsepsi, perencanaan, dan
sebagainya.
2)
Kepercayaan
Menurut Le Bon, seorang pemimpin harus memiliki keyakinan
yang kuat, percaya akan kebenaran tujuannya, percaya akan kemampuannya.
Sebaliknya ia harus
mendapat kepercayaan dari pengikutnya atau anggotanya. Ia merupan syarat
adanya wibawa sang pemimpin terhadap anggotanya.
3)
Rasa tanggung jawab
sifat ini penting sekali, sebab manakala seorang pemimpin
tidak memiliki rasa tanggung jawab, ia akan mudah bertindak sewenang-wenang
terhadap kelompoknya.
4)
Berani
Berani dalam arti karena benar dan bertindak sesuai dengan
perhitungan.Lebih-lebih dalam saat yang kritis dan menentukan, pemimpin harus
tegas, berani mengampil keputusan dan konsekwen serta tidak ragu-ragu dalam
bersikap.
5)
Tangkas dan ulet
Seorang pemimpin harus dapat bertindak cepat dan tepat, ia
harus tangkas dalam bertindak. Lebih-lebih dalam menghadapi masalah yang rumit.
Kegagalan tidak boleh menjadikan ia cepat bosan dan putus asa, tetapi
sebaliknya ia haru gigih dan ulet.
6)
Berpandangan jauh
Pemikiran seorang pemimpin harus luas.Ia berpandangan jauh ke
depan, terutama dalam merumuskan strategi atau menggariskan sesuatu taktik, hal
ini adalah sangat penting.
B. Manajemen
Menurut James AF.Stoner,manajemen adalahproses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dari kegiatan anggota organisasi dan penggunaan sumber-sumber organisasi lainnya yang telah ditetapkan.
Yang
lebih penting untuk diperhatikan adalah bahwa manajemen merupakan alat (cara
kerja) untuk mendapatkan target yang menjadi tujuan dalam suatu organisasi, dan
kegiatan manajemen ini dikelola oleh orang-orang yang secara langsung terikat
dalam wadah organisasi.
Sedangkan
menurut David R Hampton dalam bukunya manajement, bahwa organisasi adalah suatu
pengelompokan manusia yang relatif bertahan lama dalam sistem yang terstruktur
dan berkembang dimana usaha-usahanya yang terkodinir dimaksudkan untuk mencapai
tujuan dalam lingkungan yang dinamis
1. Proses Manajemen
Proses dalam manajemen adalah cara
yang sistematis untuk melakukan sesuatu hal. Proses tersebut terdiri dari
kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan, dan meliputi:
a.
Perencanaan (Planning)
Setiap kegiatan yang akan dilakukan oleh sebuah organisasi
haruslah direncanakan terlebih dahulu secara matang, supaya dapat dirancang
sebaik mungkin dan jelas apa yang akan dilakukan. Termasuk didalam hal menetapkan tujuan dan program-program yang
akan mendukung pencapaian tujuan tersebut. Perencanaan ini bisa dilaksanakan
ketika kader HMI melaksanakan raker,
rapat pengurus dan rapat kepanitian.
Dalam
merencanakan sesuatu kegiatan dapat dianalisa dengan menggunakan 5 W+1H, yaitu:
a)
What: Kegiatan apa yang dilakukan
dan kegiatan apa yang bisa dikembangkan skill dan tingkat Intelektual kader.
b)
Why: Mengapa kegiatan tersebut
dianggap perlu untuk dilaksanakan.
c)
When: kapan kegiatan tersebut akan
dilaksanakan.
d) Where: Tempat pelaksanaan sebuah kegiatan haruslah dipilih yang
strategis dan kondusif, sehingga dapat menunjang kesuksesan jalannya kegiatan
tersebut. Contohnya: mencari tempat pelaksanaan LK-I yang tenang, nyaman dan
bersih agar dapat membuat peserta LK-I merasa kerasan.
e)
Who: Disini diperhatikan sumber
daya manusia yang akan terlibat dalam kesuksesan sebuah acara. Baik ditinjau
dari kesiapan panitia yang terampil maupun melihat kemampuan para peserta.
f)
How: Hal ini menyamgkut bagaimana
teknis pelaksanaan sebuah kegiatan agar berjalan sukses
b.
Pengorganisasian (Organizing)
Mengkoordinir sumber daya manusia dan perlengkapan
organisasi, termasuk menyusun struktuk kepengurusan dan pembagian kerja untuk
melaksanakan programyang telah ditetapkan.
Dalam
mendesain organisasi, digunakan 5 prinsip utama sebagai pedomannya:
a)
Pembagian kerja (Division of
Labor), yaitu pemecahan seluruh pekerjaan menjadi beberapa tahhap, setiap kader
melakukan pekerjaan yang telah distandardisir sesuai keterampilan dan keahlian
secara terus menerus.
b)
Kesatuan Perintah (Unity of
Command), yaitu suatu prinsip dimana bawahan hanya bertanggung jawab kepada
seorang atasan saja.
c)
Kewenangan, Tanggung jawab dan
Kekuasaan. Kewenangan merupakan hak yang melekat pada kedudukan manajemen untuk
memberi perintah dan mengharapkan perintah itu ditaati.
Kekuasaan adalah kemampuan untuk
mempengaruhui keputusan.Kewenangan merupakan bagian dari kekuasaan, yaitu
bagian yang menyangkut hak formal untuk memerintah.
d) Rentang Kendali (Span of Control), yaitu banyaknya bawahan yang
dapat dikendalikan oleh seorang atasan secara efektif dan efisien. Pada
dasarnya makin lebar rentang kendali makin sedikit dibutuhkan jabatan
manajemen, seehingga menurunkan biaya manajemen dan fasilitasnya, tetapi hal
demikian mengakibatkan tidak efisiennya pengendalian terhadap bawahan.
e)
Departementalisasi
(Departementalization), yaitu pengelompokan kegiatan dan fungsi yang sejenis
dibawah koordinasi seorang ketua bidang.
c.
Pengarahan (Actuating)
Proses mengarahkan dan memotifasi anggota organisasi (kader)
untuk menuju kearah pencapaian tujuan organisasi, termasuk menciptakan iklim
yang mendukung, membimbing dan meneladani kader dalam melakukan pekerjaan
d.
Pengawasan (Controling)
Untuk mengetahui bahwa kegiatan berjalan dengan baik dan
tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan dari rancangan semula.Maka
diperlukannya koreksi dan evaluasi. Semua pengawasan ini dikerjakan untuk
mengadakan peningkatan pada masa yang akan datang.
2.
Usur-Unsur
Manajemen
Walaupun manajemen
merupakan alat yang akan dijalankan manusia didalam organisasinya, dia juga
membutuhkan alat lain sehingga tercipta sebuah kegiatan ,manajemen. Secara
umum, alat yang dibutuhkan dalam kegiatan manajemen adalah:
a.
Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia (atau kader) merupakan milik/ kekayaan
(asset) organisasi yang paling berharga.Apakah artinya sebuah HMI tanpa
kader-kadernya? Tidak banyak! Hanya berupa organisasi yang mati.Kwalitas dari
suatu organisasi, sebagian besar, merupakan penjumlahan dari mutu kader-kader
yang mengegerkannya.
Mendapatkan dan memelihara personil yang kompeten menentukan
keperhasilan darisetiap organisasi.Oleh karena itu, hendaklah masing-masing
kader di tempatkan pada posisi-posisi yang tepat didalam pekerjaannya.
Proses manajemen sumber daya manusia dapat dilakukan dengan
rekrutmen (penambahan kader lewat pelaksanaan LK-I).
b.
Modal
Modal dalam konteks ini bisa dipahami dalam bermacam-macam bentuk.Tapi
yang paling umum dapat dikatakan, modal disini adalah anggaran, fasilitas
maupun infrastruktur tenaga kerja.
c.
Metode
Metode merupakan suatu cara untuk melakukan suatu kegiatan.
Metode juga merupakan “penyambung lidah” atau “kepanjangan tangan” dari
manajemen.
d.
Sasaran/ Target
Tanpa adanya sesuatu yang dituju, maka sesungguhnya kegiatan
manajemen menjadi kehilangan makna.Karena manajemen diciptakan untuk menuju
atau mendapatkan sesuatu. Jadi, sasaran yang akan dicapai oleh seorang individu
atau sebuah organisasi, haruslah jelas.
Keempat unsur manajemen ini
harusbetul-betul diperhatikan demi tercapainya kegiatan manajemen yang baik.
Dan karena organisasi adalah
kegiatan yang sifatnya sistemik, maka kepentingan keempat unsur diatas menjadi
kepentingan yang tidak dapat ditolak keberadaannya.
1. Organisasi
Dalam
KKBI Organisasi merupakan sekelompok orang dua atau lebih yang berprofesi sama
dan mempunyai tujuan yang sama.
Organisasi
merupakan pengelompokan orang-orang ke dalam aktivitas kerja sama untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan atau dapat dikatakan bahwa organisasi
merupakan penugasan individu-individu ke dalam fungsi pekerjaan yang harus
dilakukan agar terjadi aktivitas kerja sama dalam mencapai tujuan.
Fungsi
kegiatan baru terjadi jika diisi oleh manusia sebagai sumber pelaksana. Di
dalam organisasi ada tujuan yang akan dicapai, aturan bekerja, norma yang harus
ditaati, koordinasi, kontrol, kerja sama dan hubungan sosial antara
orang-orang yang ada di dalamnya serta penghargaan kepada setiap orang yang
telah melaksanakan pekerjaannya
Organisasi dan manajemen berbeda,
tetapi memiliki kaitan yang sangat erat. Manajemen merupakan proses pencapaian
tujuan melalui kegiatan-kegiatan dan kerja sama orang-orang lain. Sedangkan
organisasi adalah kerangka, struktur atau wadah orang-orang yang bekerja sama.
Dengan demikian, manajemen mencapai tujuan melalui orang-orang lain yang
diwadahi dalam organisasi.
2. Perbedaan dan persamaan
antara Manajer dan Pemimpin
a.
Perbedaan antara Manajer dan
Pemimpin
Dalam suatu perusahaan, seseorang
dapat menjadi manajer biasanya dengan ditunjuk. Mereka memiliki kekuasaan
legitimasi, sehingga memungkinkannya untuk memberi hadiah dan hukuman kepada
stafnya. Kemampuannya untuk mempengaruhi orang lain karena adanya otoritas formal
yang inheren dalam posisinya. Sementara itu, menjadi pemimpin biasanya
karena ditunjuk atau karena muncul dari dalam kelompok. Pemimpin dapat
mempengaruhi orang lain untuk bertindak di luar otoritas formal yang
dimilikinya.Idealnya semua manajer adalah pemimpin, akan tetapi tidak semua
pemimpin memiliki kapasitas fungsi manajerial.
Adapun kepemimpinan adalah sejumlah
ketrampilan yang digunakan seseorang di dalam organisasi, dan kepemimpinan
adalah kombinasi dari segala hal. Pemimpin juga perlu memiliki pandangan
tentang masa depan dan membawa orang-orang yang dipimpinya untuk mencapai
tujuan organisasi. Pemimpin juga perlu memahami ketrampilan kemampuan
pengikutnya dan dapat menggunakan kemampuan pengikutnya. Pemimpin harus
fleksibel, kolaboratif, dan dapat menggerakkan orang lain untuk mencapai
tujuan. Dan sebagai pemimpin perlu memiliki keberanian, intuisi, kecerdasan,
dan keberanian mengambil keputusan. Sebagai contoh memiliki kharisma, dinamis,
berpikir lateral dan memiliki kebijakan.
b.
Persamaan antara Manajer dan
Pemimpin
Pemimpin dan manajer memiliki
jabatan tertinggi dalam suatu organisasi baik berupa perusahaan maupun
pemerintahan. Manajer dan pemimpin kedua-duanya dibekali dengan kekuasaan
untuk mempengaruhi, mengatur danmengarahkan anggota organisasi untuk tunduk
terhadap kepemimpinan mereka. Disamping itu tentu adalah sama-sama memimpin
dalam rangka untuk mencapai suatu tujuan. Namun demikian, kepemimpinan muncul
dari aspirasi anggota organisasi (buttom up), sedangkan manajer,
biasanya bersifat resmi, sesuai dengan kondisi, bentuk organisasi ataupun
peraturan perundang-undangan mengenai pekerjaan.
Manajer adalah seseorang yang
dikhususkan dan mendapat penghormatan untuk melaksanakan tugas sesuai dengan
standar operasi dan prosedur yang telah disepakai. Hubungan dengan anggota
organisasi dibangun dengan asas tanggungjawab yang dibebankan kepadanya. Di
samping itu, manajer dibekali dengan kekuasaan resmi, yang memungkinkan baginya
untuk mengeluarkan perintah tersebut di bawah peraturan, dan mereka bertanggung
jawab terhadap segala bentuk penyelewengan dalam menunaikan tugasnya.
Dilihat dari sisi perbedaan,
pemimpin adalah menentukan dan merumuskan tujuan-tujuan jangka panjang
organisasi dan mengembangkan misi, menggunakan alternatif-alternatif dan pedekatan–pendekatan
baru, berfikir jangka panjang, agen perubahan. Sedangkan manajer membuat,
mereaksikan dan mengimplementasikan tujuan jangka pendek, membatasi tindakan
pada tujuan jangka pendek tertentu untuk menjamin pekerjaanya berlangsung dan
berlanjut, membuat sesuatu dikerjakan sekarang, bekerja untuk mempertahankan
status quo. Persamaannya adalah sama-sama memimpin, memiliki jabatan tertinggi
dalam suatu organisasi, kedua-duanya dibekali dengan kekuasaan.
Seorang pemimpin adalah juga seorang
manajer, namun seorangmanajer belum tentu ia sebagai seorang pemimpin.
Keberadaan seorang pemimpin sebagai manajer sudah sangat jelas, karena manajer
yang bukan pemimpin hampir dapat dipastikan tidak memiliki sifat dan
ketrampilan kepemimpinan dalam menjalankan tugasnya dengan baik. Seorang
pemimpin adalah seorang manajer, hal itu juga tidak selalu benar, karena dalam
kenyataannya, ada pemimpin yang merangkap menjadi manajer dan ada pula pemimpin
yang tidak merangkap sebagai manajer dalam organisasinya umumnya adalah
pemimpin informal.
Sekarang ini dengan melihat kondisi
yang ada khususnya diindonesia sungguh sangat memprihatinkan, entah itu
dikarenakan oleh kepemimpinan atau karena factor lain. Sampai detik ini
sejumlah masalah masih mengidap di tubuh bangsa ini. Di bidang Politik, hukum
dan keamanan, bangsa kita adalah raksasa rapuh. Rumah bangsa ini tidak punya
pagar. Kapal-kapal asing bebas keluar masuk menjarah ikan di perut laut
pedalaman. Bahkan negara tetangga tanpa rasa takut memindahkan patok-patok batas
negara. Maklum, peralatan perang tentara kita lawas. Sementara, budaya koruptif
begitu akut dan sistemik ada di seluruh struktur urusan publik.
Di sektor Kesra, sejumlah borok
bangsa masih belum hilang: Angka kemiskinan tinggi. Pendidikan dan kesehatan mahal.
Anak-anak busung lapar belum hilang dari angka statistik. Untuk urusan bencana,
begitu lambat penanganannya. Ini adalah wujud minimnya rasa empati negara
terhadap kesengsaraan rakyatnya. Belum lagi konflik horizontal, baik yang
bermotif sara ataupun bermotif ekonomi. Ini pertanda negara tidak hadir di saat
rakyat membutuhkan sebagai lembaga yang memiliki otoritas mengatur ketertiban.
Kenapa itu semua terjadi? Banyak
faktor yang menjadi sebabnya. Tapi, ada satu faktor mendasar yang menjadikan
itu semua terjadi, yaitu kegagalan para elite kita memimpin bangsa ini.
Sejatinya seorang pemimpin adalah orang yang secara berani mengambil alih
masalah orang lain menjadi tanggung jawab dirinya. Ia problem solver masalah
lingkungannya. Celakanya, beberapa dekade kepemimpinan bangsa ini justru
diemban bukan oleh seorang problem solver. Jika pun ada, masih malas berpikir.
Tidak kreatif dalam mencari solusi. Setidaknya masih tambal sulam. Akibatnya,
tidak ada satu masalah bangsa pun yang terselesaikan secara tuntas.
Kenyataan itu bisa kita dapati dalam
potret keseharian masyarakat, tercetak di surat kabar, dan terekspose di kotak
kaca televisi di ruang keluarga rumah kita. Siapapun presidennya, rakyat selalu
harus antre minyak tanah untuk kompor mereka. Siapapun gubernur di ibukota,
macet dan banjir adalah penyakit akut yang entah kapan akan enyah dari
kehidupan keseharian warga kota.
Referensi
:
Kartini
Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan,
Jakarta, Grafindo, 2005
Sutarto.Dasar-Dasar organisasi.Yogyakarta.Gajah
Mada UniversityPress.2002
Thoha,
Miftah. Kepemimpinan dalam Manajemen, Jakarta:
PT. Raja Grafindo
tengkyuuu
ReplyDelete