Tema :
MEMBANGUN CULTUR INTELEKTUAL KADER HmI BERKUALITAS INSAN CITA
JUDUL :
KESADARAN MEMBANGUN KUANTITAS DAN KUALITAS KADER
DENGAN AKTUALISASI KUALITAS INSAN CITA DALAM MENYONGSONG ERA GLOBALISASI
PENYUSUN :
Nama
: MUHAMMAD ZA’MUL UMAM
Alamat Email : umamzaim@yahoo.co.id
Nomor Hp : 089506763351
Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Semarang (HMI)
Cabang Semarang
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puja dan Puji syukur tercurahkan kepada
Allah SWT, karena atas limpahan dan
karunia-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad
SAW. Manusia istimewa yang seluruh perilakunya layak untuk diteladani, yang
seluruh ucapannya adalah kebenaran, yang seluruh getar hatinya kebaikan.
Sehingga Penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Saya sangat tertarik untuk mengajukan Judul : “KESADARAN
MEMBANGUN KUANTITAS DAN KUALITAS KADER DENGAN AKTUALISASI KUALITAS INSAN CITA
DALAM MENYONGSONG ERA GLOBALISASI”
Banyak
kesulitan dan hambatan yang saya hadapi dalam membuat makalah ini tapi dengan
semangat dan kegigihan serta arahan, bimbingan dari berbagai pihak sehingga
Penulis mampu menyelesaikan makalah ini dengan baik, oleh karena itu pada
kesempatan ini, Penulis mengucapkan terima kasih kepada : ALLAH SWT karena
berkat rahmatnya saya dapat menyelesaikan makalah ini.
saya menyimpulkan bahwa makalah ini masih belum
sempurna, oleh karena itu saya menerima saran dan kritik, guna kesempurnaan
tugas mandiri ini dan bermanfaat bagi saya dan pembaca pada umumnya.
Semarang, September 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantaar................................................................................................................
i
Daftar Isi............................................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................................
1
B. Rumusan Masalah....................................................................................................
3
C. Tujuan Penulisan......................................................................................................
4
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengaruh Kuantitas dan Kualitas Kader
Didalam Organisasi
Maupun Masyarakat................................................................................................
5
B. Ruang Lingkup Insan Cita Didalam HMI
Khususnya Di Tujuan HMI..................
9
C. Cara Membangun Kesadaran Kualitas Insan
Cita Disetiap Diri Para Kader..........
14
D. Aktualisasi Kader Yang Berkualitas Insan
Cita Dalam Menyongsong
Era Globalisasi........................................................................................................ `
20
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan..............................................................................................................
25
B. Saran........................................................................................................................
26
DAFTAR PUSTAKA
BAB IBAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di kala sebuah organisasi yang sangat
membutuhkan regenerasi,di saat itu juga realitas hanya memberikan sedikit
anggota pada organisasi tersebut. Maka,organisasi tersebut akan bertemu dengan
sebuah permasalahan moralitas yang besar,yakni “kualitas atau kuantitas?”[1]
Di sinilah akan terjadi perdebatan yang sengit dan cukup menguras sedemikian
banyak pemikiran pula. Keputusan pun akan menemui titik kesulitan. Karena
terjadi benturan yang cukup keras pada kedua pandangan tersebut. Menurut
(Mohammad Hatta, Daulat Rakyat no.23, 20-4-1932) “kita juga akan
menyusun per-satu-an, maka itu akan menolak per-sate-an”[2]
Pengertian kualitas ialah tingkat baik buruknya atau
taraf atau derajat sesuatu. Istilah ini lebih sering digunakan pada bidang
bisnis, teknis dan lain sebagainya. Ukuran dari sebuah kualitas ialah di saat
ukuran tersebut dinilai oleh baik atau buruknya sesuatu. Jika ada sebuah
perusahaan yang menghasilkan produk buruk, maka kualitas dari produk yang
dihasilkan oleh perusahaan itu ialah buruk. Itulah standard yang ditentukan
oleh apa yang dinamakan oleh kualitas. Lalu, bagaimana dengan kuantitas? Situs artikata.com memberikan arti dari kata
kuantias, yakni banyaknya atau jumlah. Berbeda halnya dengan kualitas yang
memiliki standard ukuran dengan baik atau buruk. Sedangkan kuantitas lebih
terarah pada jumlah sesuatu. Jika sebuah perusahaan mampu menghasilkan produksi
yang banyak, maka itu disebut sebagai kuantitas.
Kualitas
menurut Juran (1962) “kualitas adalah
kesesuaian dengan tujuan atau manfaatnya.” Crosby (1979) “kualitas
adalah kesesuaian dengan kebutuhan yang meliputi availability, delivery,
realibility, maintainability, dan cost effectivenes” Feigenbaum (1991) “kualitas
merupakan keseluruhan karakteristik produk dan jasa yang meliputi marketing,
engineering, manufacture , dan maintenance,dalam mana produk dan jasa tersebut
dalam pemakaianya akan sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan.” Ariani (2004:3) ada dua segi
umum tentang kualitas yaitu, “kualitas rancangan dan kualitas kecocokan.
Semua barang dan jasa dihasilkan dalam berbagai tingkat kualitas. Variasi dalam
tingkat ini memang disengaja.” Sedangkan Deming berpendapat Pengertian Definisi Kualitas adalah
“mempertemukan kebutuhan dan harapan konsumen secara berkelanjutan atas harga
yang telah merekabayarkan”. Filosofi Deming membangun kualitas sebagai suatu
sistem (Bhat dan Cozzolino, 1993:106).
Dan sedangkan apa itu kualitas insan cita HMI?
kualitas insan cita HMI adalah merupakan dunia cita yakni ideal yang terwujud
oleh HMI di dalam pribadi seorang manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan
serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Kualitas tersebut sebagaimana
dirumuskan dalam pasal tujuan (pasal 5 AD HMI), Tujuan HMI adalah “Terbinanya
insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab
atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”,
Dari tujuan tersebut dapat dirumuskan menjadi lima kualitas insan cita, yakni
kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta, kualitas insan pengabdi,
kualitas insan bernafaskan Islam, dan kualitas insan yang bertanggung jawab
atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Dan apa itu era Globalisasi? Era
Globalisasi itu dapat
dijelaskan dari dua kata yang membangunnya yakni kata “era” dan “globalisasi”.
Sebuh kritik tajam di lontarkan Benyamin Lakitan Sekretaris Menteri Negara
Riset dan Teknologi. Katanya, tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi
semakin meningkat akibat “jebakan” pendidikan. Mereka di biarkan menamatkan
kuliahnya, tetapi sulit mendapatkan pekerja’an. “upaya mencetak makin banyak
tenaga terdidik memang penting, tetapi relevansi pendidikan jauh lebih
penting,”[3].
Era berarti zaman atau kurun waktu, sementara globalisasi berarti proses
mengglobal atau mendunia. Dengan demikian era globalisasi berarti zaman yang di
dalamnya terjadi proses mendunia. Proses mendunia ini yang
terjadi sejak tahun 1980-an itu terjadi di berbagai bidang atau aspek kehidupan
manusia, misalnya di bidang politik, sosial, ekonomi, agama, dan terutama
sekali globalisasi di bidang teknologi. Suatu perbuatan atau perkara pasti
mempunyai dampak dan dampak dari globalisasi itu sendiri terbagi menjadi 2
yaitu dampak positif dan dampak negatif,adapun salah satu dampak positifnya
adalah “Era Globalisasi dapat memungkinkan terjadinya perubahan
besar pada pola hidup manusia, misalnya pada cara kerja manusia: manusia akan
semakin aktif dalam memanfaatkan, menanam, dan memperdalam kapasitas
individunya manusia semakin ingin menampilkan nilai-nilai manusiawi dan jati
diri budayanya. Dan sedangkan salah satu dampak negatif dari Globalisasi
adalah “Walaupun globalisasi tidak bisa langsung diidentikkan dengan
westernisasi namun globalisasi sesungguhnya mungkin dapat menyebabkan terjadinya
masyarakat yang individualistis dan tidak religius.”
Nah dari pengertian diatas yang
menyebutkan dan menerangkan mengenai tentang kuantitas itu seperti apa?, dan
kualitas itu seperti apa?, kemudian insan cita HMI itu bagaimana?, pengertian
era globalisasi dan dampak adanya era globalisasi, maka dari itu di pnysun
mengangkat judul “Kesadaran Membangun Kuantitas Dan Kualitas Kader
Dengan Aktualisasi Kualitas Insan Cita Dalam Menyongsong Era Globalisasi”. Yang nantinya akan di bahas
selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
telah disebutkan di atas, terdapat adanya beberapa permasalahan yang dapat di
rumuskan dan akan dibahas dalam makalah ini sebagai berikut :
1.
Apa pengaruh kuantitas dan kualitas
kader di dalam organisasi maupun masyarakat ?
2.
Apa saja ruang lingkup insan
cita di dalam HmI khususnya di dalam tujuan HMI ?
3.
Bagaimanakah cara membangun
kesadaran kualitas insan cita di setiap diri para kader ?
4.
Bagaimanakah aktualisasi
kader yang berkualitas insan cita dalam menyongsong era globalisasi ?
C. Tujuan Penulisan
Sebagai
referensi kita agr kita dapa mengetahui mkna beserta arti subtansi dari rumusan
masala tersebut ialaha :
1.
Untuk mengetahui apa saja faktor
yang bisa menyebabkan adanya kuantitas dan kualitas.
2.
Untuk mengetahui bagaimana
membangun kesadaran untuk meningkatkan kualitas di setiap diri para kader.
3.
Untuk mengetahui apa saja
karateristik nsan cita yang di cita-cita kan oleh HMI.
4.
Untuk mengetahui bagaimana
upaya kader yang mempunyai kualitas insan cita bisa menyongsong era globalisasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengaruh Kuantitas Dan Kualitas Kader
Di Dalam Organisasi Maupun Masyarakat
Sebelum masuk kedalam pembahasan kualitas kader, terlebih dahulu kita
membahas tentang kuantitas kader karena apa?, sebelum adanya kualitas kader
pastilah kuantitas kader di dalam organisasi harus di perhitungkan terlebih
dahulu. Karena yang kita bahas sa’at ini adalah seorang kader maka saya akan
menyinggung tentang kuantitas kader di dalam sebuah organisasi. Kaderisasi
adalah proses pendidikan jangka panjang untuk menanamkan nilai-nilai tertentu
kepada seorang kader. Siapakah kader? Kader adalah anggota, penerus organisasi.
Nilai-nilai apa? Nilai-nilai yang diyakini bersama sebagai pembentuk watak dan
karakter organisasi.
Organisasi, apapun itu mutlak mensyaratkan kaderisasi. Kecuali bila
organisasi anda adalah organisasi diri sendiri, yang anggotanya anda sendiri.
Organisasi terpimpin sekalipun, dimana si Ketua menjadi Ketua sepanjang
hidupnya tetap saja membutuhkan regenerasi untuk rekan kerjanya. Organisasi
merupakan suatu kesatuan sosial dari sekelompok manusia yang saling
berinteraksi menurut suatu pola tertentu
sehingga setiap anggota organisasi memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing,
sebagai suatu kesatuan yang memiliki tujuan tertentu dan mempunyai batas-batas
yang jelas, sehingga bisa dipisahkan. (Mathis dan Jackson)[4]
Sebuah
organisasi dapat kita analogikan sebagai sebuah bangunan. Sebuah bangunan
tentunya harus memiliki pondasi yang kuat agar bangunan tersebut dapat tetap kokoh.
Dalam sebuah organisasi salah satu pondasi yang diprelukan adalah kaderisasi.
Kaderisasi dalam sebuah organisasi dapat kita artikan sebagai proses penurunan
nilai kepada individu dimana nilai atau nilai-nilai tersebut adalah sesuatu
yang memang dibutuhkan untuk menyiapkan individu tersebut melaksanakan tujuan
organisasi yang mengkadernya. Organisasi sebagai fungsi manajemen (organisai dalam
pengertian dinamis) adalah yang memberikan kemungkinan bagi manajemen dapat
bergerak dalam batas-batas tertentu. (Drs. Soekarno. K)[5]
Kaderisasi
merupakan merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa
kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak
dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Kaderisasi
adalah sebuah keniscayaan mutlak membangun struktur kerja yang mandiri dan
berkelanjutan. Fungsi dari kaderisasi adalah mempersiapkan calon-calon (embrio)
yang siap melanjutkan tongkat estafet perjuangan sebuah organisasi. Kader suatu
organisasi adalah orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai
keterampilan dan disiplin ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan yang di atas
rata-rata orang umum. Bung Hatta pernah menyatakan kaderisasi dalam kerangka
kebangsaan, “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk
menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus
menanam”.
Dan di
dalam sebuah usaha yaitu pengkaderan pasti adanya keberhasilan dan
kegagalan, dan disini saya juga akan menyinggung tentang kegagalan dalam usaha
ini “pengkaderan”, Apa yang terjadi bila Kaderisasi gagal?, Yang akan
terjadi adalah, nilai-nilai organisasi tidak sampai kepada generasi berikutnya.
Generasi sebelumnya akan selalu memikul beban sejarah sendiri selamanya.
Kaderisasi gagal biasanya terjadi karena beberapa hal :
a.
Pelatih/Senior tidak memiliki
kemampuan melatih.
b.
Pelatih/Senior tidak memiliki
kemauan melatih.
c.
Tidak ada anggota/kader untuk
dilatih.
Sebab
kesatu muncul karena senior hanya bersandar kepada pengalaman yang dimiliki. Seorang
pelatih yang baik mutlak perlu cukup bacaan. Inilah yang membedakan seorang
tukang dengan insinyur. Dalam kaderisasi, pelatih/senior harus mampu
mengkomunikasikan ilmu dan pengalaman.
Sebab kedua
yang paling memprihatinkan. Kemauan adalah awal dari semuanya terjadi.
Jika tidak
ada kemauan melatih dari senior, maka carilah orang lain. Jika tidak ada,
jadilah pelatih bagi anda dan teman-teman. Jangan biarkan orang yang sedang
sekarat ini membuat matinya organisasi.
Sebab
ketiga adalah alasan mengapa organisasi harus melakukan penerimaan anggota.
Janjikanlah kepada calon anggota, hal-hal yang bisa organisasi berikan. Jangan
belagak seperti kebanyakan politikus : over promise under deliver . Ada yang
mungkin mengatakan tidak penting kuantitas anggota yang penting kualitas.
Realitas
menyatakan sebaliknya, kuantitas dulu baru kualitas.
Dalam
perjalanan organisasi kualitas seorang kader akan diuji oleh komitmennya, dan
yang pasti: waktu, Seberapa lama ia mampu bertahan, dan memberikan yang
terbaik. Kalau di atas tadi kita sudah menyinggung tentang kuantitas kader
sekarang kita akan membahas tentang kualitas kader di dalam organisas, karena
kita adalah para kader HMI maka di sini saya akan menyinggung problematika
kualitas kader yang ada di dalam organisasi ini, Realitas hari ini HMI tenyata
hanya dipandang sebagai organisasi yang mampu melahirkan kader kader yang
oppurtunis, kader yang hanya memikirkan diri sendiri bagaimana mendapatkan
jabatan distruktur pemerintahan.
Kader yang
tidak visioner tentunya memberikan dampak buruk terhadap implementasi mission
HMI. Berdasarkan kompleksitas masalah yang dihadapi organisasi ini tentu
dibutuhkan evaluasi serta reformasi besar-besaran di internal HMI. Banyak
faktor yang menyebabkan kemunduran HMI baik distruktur paling tinggi hingga ke
struktur yang paling rendah.
Secara normatif regenarasi
kader adalah keniscayaan pada setiap organisasi, kesadaran kader kembali mesti
dibangkitkan sebagai pelanjut dari perjuangan organisasi. Kesadaran kader
kembali mesti dipicu untuk melanjutkan mission HMI, dan kesadaran tersebut akan
terbentuk di forum-forum pelatihan HMI. Kualitas kader sangat tergantung dari
konsep dan pola perkaderan yang dibangun disetiap forum pelatihan, jika
pelatihan hanya dijadikan sebagai rutinitas belaka tanpa ada makna perjuangan
maka ini lah yang menjadi salah satu permasalahan mendasar kemunduran HMI. Di
setiap training-training lah watak dan karakter kader dibentuk, dengan adanya
Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang disampaikan di LK I diharapkan NDP tersebut
dijadikan sebagai konsepsi teoritis setiap kader untuk menjalani rutinitasnya
sebagai insan intelektual dan insan perubahan. Pemahaman yang utuh terhadap NDP
sangat berpengaruh secara praksis bagi tingkah laku kader HMI. Pemaknaan akan
dasar perjuangan tersebut memberikan konstribusi besar akan impementasi tujuan
HMI ditengah kompleksitas bangsa yang telah mempengaruhi mindset mahasiswa dan
masyarakat.
Karakter kader HMI yang kritis dan intelek merupakan ekspektasi dari
orientasi training, kader HMI mestinya menjadi cerminan bagi setiap mahasiswa
yang mengharapkan perubahan secara totalitas terhadap karakter berpikir yang
dipahami sebelumnya. Karena HMI berperan sebagai organisasi perjuangan[6].
Organisasi perkaderan idealnya akan mengahasilkan kader-kader yang
intelek,kritis dan kooperatif sehinggan mission organisasi akan terealisasikan
dengan adanya kesadaran kolektif bagi seluruh stackholder yang ada di Internal
HMI. Kolektifitas kader sangat dibutuhkan guna terciptanya Insan pencipta serta
pengabdi, keniscayaan yang tak bisa ditolak bagi seluruh kader yakni loyalitas,
militansi dan tanggungjawab akan visi, misi dan tujuan dari organisasi.
Dilain pihak agar tujuan organisasi tersebut tercapai, produktifitas dari
struktur organisasi sangat diharapkan , kesadaran kolektif dan kooperatif yang
menjadi tumpuan bagi setiap kader dalam menjalani setiap proses yang ada.
Dinamika organisasi jangan dipandang sebagai hal yang negatif melainkan
dipandang sebagai hal yang positif bagi perkembangan organisasi tersebut. HMI
yang memilik struktur organisasi yang kompleks merupakan upaya untuk
merealisasikan dari tujuan organisasi. Kesadaran akan tanggungjawab struktur
pun menjadi tutntutan setiap kader yang mengemban aman organisasi. Bukan hanya
sekedar menduduki jabatan di HMI melainkan harus mempertanggungjawabkan secara
konstitusional terhadap jabatan yang diemban. Pemahaman akan fungsi dan
wewenang dari jabatan yang diamanahkan selalu menjadi pahaman dasar bagi kader,
capability serta responsibility syarat mesti bagi kader yang duduk distruktur
organisasi. Manajerial organisasi yang efektif sangat menunjang terciptanya
cita-cita organisasi.
Masa depan HMI yang cerah menjadi harapan seluruh anggota dan kader yang
berkiprah menjadi pioner-pioner organisasi. sehingga para insan kader HMI siap
dan dapat dimanfaatkan oleh seluruh golongan yang ada ditengah-tengah
masyarakat selagi tujuannya tidak bertentangan denganmission HMI[7],
dan juga ikut berjuang mempertahankan eksistensi HMI sebagai organisasi
pergerakan menjadi landasan utama agar organisasi mampu melakukan perubahan
sosial ditengah arus zaman yang semakin mencekam perkembangan kemanusian
manusia. Kader HMI sebagai aktor intelektual semestinya memainkan peran sebagai
sosok pembaharu yang memperjuangkan keadilan akan ketimpangan sosial.
Ketidakmampuan HMI menjawab tantangan realitas menjadi masalah besar terhadap
transformasi sosial masyarakat adil dan makmur. Oleh karena itu berhasil
tidaknya eksistensi HMI menjaga kejayaan masa lalu dan tradisi Intelektual kini
ada dipunggung kader sebagai pelanjut dari tongkat estafet perjuangan. Kini dan
akan datang potensi kader menjadi harapan besar organisasi untuk kembali
berkiprah berada di posisi terdepan untuk merumuskan solusi alternatif berbagai
macam problem yang menjadi benteng penghalang terhadap proses perubahan dan
transformasi sosial bangsa dan ummat.
B. Ruang Lingkup Insan Cita Di Dalam HMI Khususnya Di
Dalam Tujuan HMI
Kualitas insan cita HMI adalah merupakan dunia cita yakni ideal yang
terwujud oleh HMI di dalam pribadi seorang manusia yang beriman dan berilmu
pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Kualitas tersebut
sebagai mana dirumuskan dalam pasal tujuan (pasal 4 AD HMI)[8]
adalah sebagai berikut:
1.
Kualitas Insan Akademis :
Ø
Berpendidikan tinggi, berpengetahuan
luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis.
Ø
Memiliki kemampuan teoritis,
mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan. Dia selalu berlaku
dan menghadapi suasana sekelilingnya dengan kesadaran.
Ø
Sanggup berdiri sendiri
dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu yang dipilihnya, baik
secara teoritis maupuan teknis dan sanggup bekerja secara ilmiah yaitu secara
bertahap, teratur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip
perkembangan.
2.
Kualitas Insan Pencipta; Insan
Akademis, Pencipta :
Ø
Sanggup melihat
kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada, dan bergairah
besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik dan bersikap dengan
bertolak dari apa yang ada (yaitu Allah). Berjiwa penuh dengan gagasan-gagasan
kemajuan, selalu mencari perbaikan dan pembaharuan.
Ø
Bersifat independen dan
terbuka, tidak isolatif, insan yang menyadari dengan sikap demikian potensi,
kreatifnya dapat berkembang dan menemukan bentuk yang indah-indah.
Ø
Dengan ditopang kemampuan
akademisnya dia mampu melaksanakan kerja kemanusiaan yang disemangati ajaran
Islam.
3.
Kualitas Insan Pengabdi;
Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi :
Ø
Ikhlas dan sanggup berkarya
demi kepentingan orang banyak atau untuk sesama umat.
Ø
Sadar membawa tugas insan
pengabdi bukanya hanya membuat dirinya baik, tetapi juga membuat kondisi
sekelilingnya menjadi baik.
Ø
Insan akademis, pencipta dan
pengabdi adalah yang pasrah cita-citanya yang ikhlas mengamalkan ilmunya untuk
kepentingan sesamanya.
4.
Kualitas Insan yang
bernafaskan Islam: Insan Akademis, Pencipta dan Pengabdi yang bernafaskan Islam
:
Ø
Islam yang telah menjiwai dan
memberi pedoman pola pikir dan pola lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam
akan menjadi pedoman dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan mission Islam.
Dengan demikian Islam telah menafasi dan menjiwai karyanya.
Ø
Ajaran Islam telah berhasil
membentuk “unity of personality” dalam dirinya. Nafas Islam telah membentuk
pribadinya yang utuh tercegah dari split personality tidak pernah ada dilema antara
dirinya sebagai warga negara dan dirinya sebagai muslim insan ini telah
meng-integrasi-kan masalah suksesnya dalam pembangunan Nasional bangsa ke dalam
suksesnya perjuangan umat Islam Indonesia dan sebaliknya.
5.
Kualitas insan bertanggung
jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT :
Ø
Insan akademis, Pencipta dan
Pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya
masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Ø
Berwatak, sanggup memikul
akibat-akibat yang dari perbuatannya sadar bahwa menempuh jalan yang benar
diperlukan adanya keberanian moral.
Ø
Spontan dalam menghadapi
tugas, responsif dalam menghadapi persoalan-persoalan dan jauh dari sikap
apatis.
Ø
Rasa tanggung jawab taqwa
kepada Allah SWT, yang menggugah untuk mengambil peran aktif dalam suatu bidang
dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
Ø
Korektif terhadap setiap
langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat yang adil dan
makmur.
Kalau kita bicara mengenai tentang masyarakat adil dan makmur yang
diridloi Allah SWT maka kita harus mengetahui bahwa Masyarakat muslim di
indonesia merupakan jumlah penduduk yang terbesar di bandingkan dengan jumlah
penduduk agama yang lain yaitu di perkirakan sebesar 87 persen[9].
Karateristik masyarakat Indonesia berpaham ketuhanan untuk itu dapat di katakan
bahwa paham kemasyarakatan bangsa Indonesia adalah ketuhanan, yang dalam
pancasila dinyatakan “Ketuhanan Yang Maha Esa”,dan percaya pada diri sendiri
dan sadar akan kedudukannya sebagai “khalifah fil ardhi” yang harus
melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan.
Pada pokoknya insan cita HMI merupakan “Man of future” insan pelopor yaitu
insan yang berfikiran luas dan berpandangan jauh, bersifat terbuka, terampil
atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu
bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara operatif bekerja sesuai yang
dicita-citakan.
Ideal type dari hasil perkaderan HMI adalah “Man of inovator” (duta-duta
pembaharu). Penyuara “Idea of progress” insan yang berkepribadian imbang dan
padu, kritis, dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah
SWT. Mereka itu manusia-manusia yang beriman berilmu dan mampu beramal soleh
dalam kualitas yang maksimal (insan kamil).
Dari lima kualitas lima insan cita tersebut pada dasarnya harus dipahami
dalam tiga kualitas insan Cita yaitu kualitas Insan akademis, kualitas insan
pencipta dan kualitas insan pengabdi. Ketiga kualitas insan pengabdi tersebut
merupakan insan Islam yang terefleksikan dalam sikap senantiasa bertanggung
jawab atas terwujudnya masyarakat adi dan makmur yang diridhoi Allah SWT.Dalam
setiap organisasi khususnya HMI kader memiliki peran sentral, dimana kader
sebagai agen dalam rangka menerapkan cita perjuangan HMI yang sesuai dengan
Tujuan HMI yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang
bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwjudnya masyarakat adil makmur
yang diridhoi Allah SWT sehingga dibutuhkan kader yang berwawasan keislaman,
keindonesiaan, dan kemahasiswaan dengan lima kualitas insan cita dan bersifat
independen dalam rangka mengemban amanah organisasi. Organisasi menurut Haleigh B. Trecker adalah merupakan suatu kegiatan
atau suatu proses menghimpun atau mengatur kelompok-kelompok yang saling
mengadakan hubungan dari unit perwakilan kedalam suatu pekerjaan yang
menyeluruh.[10]
Percaya pada diri sendiri dan sadar akan kedudukannya sebagai “khalifah
fil ardhi” yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan. Pada pokoknya insan
cita HMI merupakan “Man of future” insan pelopor yaitu insan yang berfikiran
luas dan berpandangan jauh, bersifat terbuka, terampil atau ahli dalam
bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari
ilmu perjuangan untuk secara operatif bekerja sesuai yang dicita-citakan. Ideal
type dari hasil perkaderan HMI adalah “Man of inovator” (duta-duta pembaharu).
Penyuara “Idea of progress” insan yang berkepribadian imbang dan padu, kritis,
dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah SWT. Mereka itu
manusia-manusia yang beriman berilmu dan mampu beramal soleh dalam kualitas
yang maksimal (insan kamil).
Setiap anggota HMI berkewajiban berusaha mendekatkan kualitas dirinya pada
kualitas insan cita HMI seperti tersebut di atas. Tetapi juga sebaliknya HMI berkewajiban
untuk memberikan pimpinan, bimbingan dan kondusif bagi perkembangannya potensi
kualitas pribadi-pribadi anggota-anggota dengan memberikan fasilitas-fasilitas
dan kesempatan-kesempatan.
Kemudian untuk itu setiap anggota HMI harus mengembangkan sikap mental
pada dirinya yang independen untuk itu :
·
Senantiasa memperdalam hidup
kerohanian agar menjadi luhur dan bertaqwa kepada Allah SWT.
·
Selalu tidak puas dan selalu
mencari kebenaran.
·
Jujur dan tidak mengingkari
hati nurani atau hanief.
·
Teguh dalam pendirian dan
obyektif rasional menghadapi pendirian yang berbeda.
·
Bersifat kritis dan berfikir
bebas kreatif.
·
Hal tersebut akan diperoleh
antara lain dengan jalan:
·
Senantiasa mempertinggi
tingkat pemahaman ajaran Islam yang dimilikinya dengan penuh gairah.
·
Aktif berstudi dalam fakultas
yang dipilihnya.
·
Mengadakan tentir club untuk
studi ilmu jurusannya dan club studi untuk masalah kesejahteraan dan
kenegaraan.
·
Giat dalam studi dan selalu
mengikuti perkembangan situasi.
·
Selalu mengadakan perenungan
terhadap ilmu-ilmu yang sudah dimilikinya dan mengemukakan pendapatnya sendiri.
·
Selalu hadir dalam forum
ilmiah.
·
Memelihara kesehatan badan
dan aktif mengikuti karya bidang kebudayaan.
·
Selalu berusaha mengamalkan
dan aktif dalam mengambil peran dalam kegiatan HMI.
Bahwa tujuan HMI sebagai dirumuskan dalam pasal AD HMI pada hakikatnya
adalah merupakan tujuan dalam setiap anggota HMI. Insan cita HMI adalah
gambaran masa depan HMI. Suksesnya seorang HMI dalam membina dirinya untuk
mencapai insan cita HMI berarti dia telah mencapai tujuan HMI.
Insan cita HMI ini pada suatu waktu akan merupakan Ïntelectual
community”atau kelompok intelegensia yang mampu merealisir cita-cita umat dan
bangsa dalam suatu kehidupan masyarakat yang sejahtera spiritual, adil dan
makmur serta bahagia (masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT).
C. Cara Membangun Kesadaran Kualitas Insan Cita Di Setiap
Diri Para Kader
Para kader
HMI harus mampu megidentifikasi dan merumuskan berbagai jawaban atas
tantangan-tantangan yang ada, berorietasi jangka panjang, senantiasa
meningkatkan kualitas SDM (dengan penguasaan atas iptek dan memiliki kualitas
imtak), sehingga peran para kader HMI betul-betul mampu dirasakan oleh segenap
elemen bangsa yang lain. Para kader HMI harus tetap menjadi “manusia pembelajar” rendah hati dan sungguh-sungguh dalam
menuntut ilmu dan menguasai teknologi, senantiasa cerdas dan mampun berbuat
sekecil apapun bagi masa depan umat dan bangsa Indonesia secara lebih baik. Hasan al-Banna
mengatakan: “Dalam setiap kebangkitan sebuah peradaban di belahan dunia manapun
maka kita akan menjumpai bahwa pemuda adalah salah satu irama rahasianya”[11]
Dalam
keseharian kader, pola fikir dan mentalitas harus menjadi sorotan. sehingga
daya dorong HMI terhadap persoalan, tergambar pada penyikapan kader yang
memiliki keberpihakan pada kaum tertindas serta memperjuangkan kepentingan
kelompok ini dan membekalinya dengan senjata ideologis yang kuat untuk melawan
penindas. Mengingat fungsi HMI sebagai organisasi kader, maka seluruh aktivitas
atau kegiatan HMI dikembangkan pada penggalian potensi kualitatif pribadi dan
anggota–anggota yang militan, memiliki kedalaman pengetahuan dan keimanan,
serta mempunyai kesetiaan pada organisasi.
Arah
pengkaderan HMI tercermin dalam tujuan HMI, yaitu terbinanya individu yang
memiliki kualitas insan cita (akademis,
pencipta, pengabdi, bernafaskan islam, serta bertanggung jawab atas terwujudnya
masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT). Kualitas inilah yang harus
dimiliki oleh setiapa kader HMI dan menjadi gambaran masa depan anggota HMI,
suksesnya anggota HMI dalam membina diri untuk mencapai kualitas insan cita
berarti dia telah mawujudkan tujuan HMI.
Kalau kita
bicara mengenai tujuan HMI maka kita harus mngerti apa itu sifat independensi
HMI, watak atau sifat independen HMI adalah sifat organisasi secara etis
merupakan karakter dan kepribadian kader HMI. Implementasinya harus terwujud di
dalam bentuk pola pikir pola laku setiap kader HMI baik dalam dinamika dirinya
sendiri sebagai kader HMI maupun dalam melaksanakan “Hakikat dan Mission“
organisasi HMI dalam kiprah hidup berorganisasi, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Watak independensi HMI yang
tercermin secara etis dalam pola pikir pola sikap dan polalaku setiap kader HMI
akan membentuk independensi etis HMI, sementara watak independensi HMI yang
teraktualisasi secara organisatoris di dalam kiprah organisasi HMI akan membentuk independensi organisatoris
HMI.
Kalau di
sini kita berbicara mengenai tentang membangun kesadaran kader HMI berkualitas
insan cita, maka kita harus membangun kembali citra HMI, Ketika HMI didirikan taun 1947, anggota HMI
hanya 15 orang, cabang belum ada, apalagi komisariat, badan koordinasi dan
sebagainya berupa aparat yang lazim disebutkan dewasa ini. Namum
perkembangannya cukup menanjak, khususnya selama 13 tahun, 1950–1963; baik dari
segi kuantitas maupun kualitas. Terlebih– lebih dari tahun 1964–1965,
reputasinya menanjak tinggi, namanya tenar, bukan hanya dikalangan mahasiswa
dan kaum terpelajar saja. Tetapi dikenal di segenap lapisan masyarakat, bukan
hanya di indonesia, bahkan di luar negeri. Mengapa demikian, karena ulah PKI
dan simpatisan-nya, yang ingin membubarkan HMI. Inilah jasa terbesar PKI, CGMI,
Pemuda Rakyat, Gerwani, BTI, HSI, dan organisasi masa PKI lainnya, maupun antek-
anteknya, yang tergabung dalam persekongkolan jahat, yang telah dipopulerkan
HMI,
Bukan
karena semata-mata digayang PKI, HMI menjadi besar dan populer. Kebesaran dan
kepopuleran HMI datang dari situasi dan kondisi dari tubuh HMI sendiri. HMI
tidak akan bertambah kerdil atau besar karena digayang dan mau dibubarkan oleh
PKI dan barisan lainnya. Organisasi ini besar karena bekerja tanpa pamrih untuk
nusa bangsa dan agama. Indikator itu bisa ditelusuri dari alur perjalanan
sejarahnya.
Pertama,
kondisi organisasi HMI yang telah merata di kota Perguruan Tinggi. Kedua, dalam
tingkatan sekarang ini HMI sudah mencapai tingkatan organisasi modern, walaupun
tidak luput dari berbagai kelemahan dan kekurangan. Ketiga, peranan pemuda,
mahasiswa dalam kehidupan suatu negara adalah besar dan menentukan. Hal ini
bisa disaksikan dalam moment-moment sejarah bangsa Indonesia tahun 1908, 1928,
tahun 1945 dan tahun 1966. Keempat , pemikiran dan perjuangan HMI relevan
dengan dimensi sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Kelima, Aktivitas HMI
berorientasi untuk kepentingan anggotanya dan masyarakat luas. Keenam, secara
fisik memiliki lebih dari 150.000 anggota.
Patut
dikaji dan direnungkan bahwa masa depan yang cerah dan gemilang itu tidak akan
datang begitu saja. Tetapi masa depan yang cerah dan gemilang itu baru bisa
dicapai tergantung kepada pengemudi kendali organisasi sejak dari pengurus
komisariat, koordinator komisariat, cabang, badan koordinasi , pengurus besar,
bahkan anggota dan alumni HMI seluruhnya. Dengan belajar dari pengalaman
sejarah yang panjang sebagai guru terbaik dari suatu perjuangan. HMI jangan
berorientasi kepada masa lalu, sambil berapologi, senantiasa harus berorientasi
kepada masa depan, yang secara riel terbentang dan terhampar luas di hadapan
kita.
Masa depan
yang cerah harus diciptakan oleh HMI itu sendiri dengan kerja keras, tekun,
ulet, tabah, penuh kesadaran dan kesabaran, berencana dan teratur, Citra
tunggal yang positif HMI harus diciptakan. Dengan kata lain HMI harus dapat
berakar di hati bangsa Indonesia , dan melekat di hati ummat. Menjadi
patnership dari pemerintah dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar yang
konstruktif menuju masyarakat adul makmur yang diridhoi Allah SWT, berdasarkan
pancasila dan undang-undang 1945 secara murni dan konsekwen.
Oleh sebab
itu langkah yang harus dilakukan sedini mungkin antara lain :
·
Membina dan menegakkan
orisinalitas sejarah dan pemikiran HMI
·
Membiasakan berpikir otonom
secara HMI
·
Melakukan konsolidasi
organisasi secara berkesinambungan, sebagai masalah dan pekerjaan besar
sepanjang masa
·
Pembentukan kader dan aktivis
yang tangguh dan tanggap
·
Setiap anggota HMI adalah
yang berprestasi dalam bidang studi, dan sukses dalam berorganisasi
·
Memasyarakatkan terus
pemikiran HMI
·
Mau belajar dari pengalaman
sejarah yang panjang
·
Bersikap teguh dalam prinsip
luwes dalam penerapan
·
Mau mengoreksi diri sendiri
dan dikorekri orng lain
·
Meningkatkan partisipasi
aktif dan konstuktif HMI terhadap pembangunan yang dilaksanakan pemerintah di
segala bidang
·
Bekerja sama dengan semua
pihak sepanjang tidak menyalahi prinsip-prinsip pedoman organisasi HMI
·
Mengkonsolidasikan
keberhasilan dan kemenangan yang sudah dicapai
·
Mengadakan evaluasi secara
terus menerus terhadap apa saja yang telah diperbuat, untuk menetapkan
kebijakan guna melangkah lebih maju.
·
Tidak cepat puas terhadap apa
yang telah diperoleh
·
Perbanyak dan tingkatkan amal
ibadah kepada Allah SWT . ( Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan sejarah
Perjuangan Bangsa Indonesia )
Citra
organisasi harus selalu dijaga dan ditingkatkan. Menjaga citra HMI sebagai
organisasi terbesar dan terbaik merupakan sebuah tantangan yang cukup berat,
karena HMI sudah melahirkan ribuan kader dengan sengala plus minusnya.
Menjaga
citra membutuhkan komitmen tinggi. Namun demikian perlu disadari bersama citra
yang baik akan memberi daya tarik dan kebanggaan tersendiri, karena disadari
atau tidak, cerita–cerita miring yang dialami oleh kader dan alumni HMI dalam
menjalankan aktivitasnya telah ikut serta menurunkan kebanggaan ber-HMI dan
minat menjadi anggota HMI dikalangan mahasiswa dan pemuda. Harus diciptakan
citra tunggal bukan ganda untuk HMI kedepannya.
Kita
kembali ke topik pembahasan mengenai tentang sifat independensi HMI,
konsekuensi pencantuman sifat HMI sebagai organisasi yang independen dalam
Konstitusi HMI memerlukan suatu penjelasan untuk dijadikan pedoman dalam
perjuangan Naskah Tafsir Independensi HMI memuat empat bagian. Pertama,
Pendahuluan yang menerangkan bahwa menurut fitra kejadian, manusia itu
diciptakan dalam keadaan bebas dan merdeka. Oleh karena itu HMI sebagai
organisasi mahasiswa harus pula bersikap independen. Kedua, status dan fungsi
HMI, yang memilih watak dan sifat kepeloporan, kekaderan, yang berfungsi
sebagai agent “of social change”. Ketiga, sifat independensi HMI, yang merupakan
sifat organisasi, maka implementasinya perlu diwujudkan dalam bentuk
sikap-sikap sebagai penjabaran, yaitu;
·
Cenderung kepada kebenaran (
Hanif ).
·
bebas , merdeka , dan
terbuka.
·
objektif , rasional dan
kritis.
·
progresif dan dinamis.
·
demokratis , jujur , dan
adil.
Keempat,
peranan HMI dimasa depan. Kader HMI merupakan investasi manusia yang besar dan
berarti, yang dimasa mendatang akan menduduki jabatan dan fungsi pimpinan yang
sesuai bakat dan profesinya. Dengan sifat dan garis independen yang menjadi
watak, dan menempuh jalan atas dasar keyakinan dan kebenaran. Konsekuensinya
bahwa aktivis, fungsionaris, dan kader HMI harus memiliki lima kualitas insan
cita.
Pemikiran
lain yang bisa dilihat dari sifat independensi HMI adalah karena kemajemukan bangsa
Indonesia, yang ditandai dengan banyaknya agama, partai politik, yang beraneka
ragam coraknya, suku, daerah, kebudayaan. Untuk menghadapi masyarakat yang
pluralistik seperti itu HMI harus independen, agar dapat berdiri tegak di
tengah-tengah bangsa Indonesia untuk mencapai tujuannya. Dari berbagai sudut
pandang , baik dari dalam dan terlebih lagi dari luar, HMI sering disebut tidak
Independen, atau telah bergeser sifat independensinya. Kritik yang tajam itu
pula tidak membuat HMI bergeser dari pendiriannya untuk tetap tegak, bahwa HMI
adalah organisasi yang independen sejak awal berdirinya, sekarang, dan yang
akan datang. Untuk dapat mempertahankan makna Independen dalam diri setiap
kader HMI dan dapat menjadi karakter setiap kader HMI di setiap aktivitasnya
maka perlu adanya metode penyampaian tafsir independensi di setiap training
agar dapat dipahami dan diamalkan, metode yang dirasa bisa maksimal adalah
metode belajar mandiri. Belajar mandiri adalah metode khas belajarnya orang
dewasa, meskipun asil yang optimal akan terwujud justru sikap belajarnya
dilakukan dengan gembira dan tanpa beban.
Beberapa
ciri belajarnya orang dewasa yang dapat menumbuhkan kesadaran dalam diri,
sebagai berikut :
·
Kegiatan belajar bersifat
self directing mengarahkan diri sendiri dan tidak tergantung kepada orang lain.
·
Pertanyaan–pertanyaan yang
timbul dalam proses pembelajaran dijawab sendiri atas dasar pengalaman.
·
Tidak mau didekte guru,
karena mereka tidak mengharapkan secara terus– menerus.
·
Orang dewasa mengaharapkan
penerapan dengan segala dari apa yang dipelajari.
·
Lebih senang dengan
partisipasi aktif dari pada fasif mendengarkan ceramah.
·
Selalu memanfaatkan
pengalaman yang telah dimiliki, karena sebagai orang dewasa mereka tidak datang
dengan kepala kosong untuk belajar.
·
Lebih menyukai belajar
melalui tukar menukar pengalaman dengan sesama orang dewasa atau saling berbagi
tanggung jawab.
·
Perencanaan dan evaluasi
belajar lebih baik dilakukan dalam batas tertentu anatara guru dan pembelajar.
·
Belajar harus berbuat, tidak
cukup hanya mendengkan dan menyerap.
Dengan
metode membangun kesadaran dengan menggunakan cara belajar orang dewasa
dimungkinkan lebi efektif, dan nilai nilai yang terkandung dalam Tafsir
Independensi HMI akan melekat dalam diri kader sampai menjadi alumni nanti.
D. Aktualisasi Kader Yang Berkualitas Insan Cita Dalam
Menyongsong Era Globalisasi
Sesungguhnya kelahiran HmI dengan rumusan tujuan seperti pasal 4 Anggaran
Dasar tersebut adalah dalam rangka menjawab dan memenuhi kebutuhan dasar (basic
need). Bangsa Indonesia setelah mendapat kemerdeka’an pada tangggal 17 Agustus
1945 guna menformulasikan dan merealisasikan cita-cita hidupnya. Seperti pada
dasarnya kita ketahui Tujuan HMI sebagai berikut :
“Terbinanya insan akademis,
pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas
terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala.”
Begitulah yang tertulis dalam Anggaran Dasar Himpunan Mahasiswa Islam Bab
III pasal 4 tentang tujuan. Membina insan akademis, sebuah rangkaian diksi yang
menunjukkan bahwa HMI melakukan sebuah proses pembinaan terhadap “insan
akademis”, atau mahasiswa. Tentu saja ketika berbicara tentang mahasiswa,
berarti kita mengarah kepada sebuah sosok iron stock, cadangan pemimpin masa
depan, yang harus dituntut kemampuannya. Dengan dasar berpendidikan tinggi,
berpengetahuan luas, berpikir rasional, obyektif, dan kritis.
Sebuah
kritik cukup tajam di lontarkan Benyamin Lakitan sekretaris menteri negara
riset dan teknologi. Tingkat pengangguran kelulusan perguruan tinggi semakin
meningkat akibat jebakan pendidikan. Mereka di biarkan menamatkan
kuliahnya, tetapi sulit mendapatkan pekerja’an. “Upaya mencetak makin banyak
tenaga terdidik memang penting, tetapi relevansi pendidikan jauh lebih
penting,”.
Insan pencipta, dalam sebuah
pengertian dalam arti kata insan pencipta adalah sesosok manusia yang mau dan
mampu melakukan hal-hal tertentu yang ketika dibutuhkan ia menjadi sebuah
solusi yang menjawab tantangan zaman. Sesosok insan yang sanggup melihat
kemungkinan-kemungkinan lain, yang lebig dari sekedar yang ada. Insan pencipta
yang akan mau dan mampu untuk melakukan hal-hal baru dalam masyarakat yang
kemudian dengan didasari oleh semangat dan keinginan untuk beribadah kepada
Allah. Spirit Misi HMI adalah spirit trilogi misi Islam, yaitu :
“Hendaknya diantara kamu ada umat
yang melakukan da’wah ila al khair, amar makruf dan nahi mungkar, dan mereka
itulah orang-orang yang bahagia (Q.S. 3: 104)”
Al khair = “kebajikan universal”
Al makruf = “yang telah diketahui” (sebagai benar, hukum/kebaikan)
Al munkar = “yang diingkari” (oleh hati nurani)
Semangat
dalam berdakwah semangat dalam menyeru kepada yang makruf dan meninggalkan yang
mungkar ini yang sekarang mulai meredup, kader HMI mulai terperangkap dengan
serbuan informasi. Maka dari itu kembali kepada semangat yang merujuk pada tiga
hal di atas. Yaitu kebajikan universal, kebajikan yang kemudian menyentuh
kesetiap lini kehidupan, tanpa pandang bulu, sebagai pengaplikasian “Islam
rahmatan lil ‘alamin”.
Selaras ketika
kita berbicara Islam dan dunia global, ketika umat Islam yang selama ini
dicitrakan buruk, era ini adalah era yang tepat untuk menjawab citra buruk
tersebut menjadi islam yang dapat diserukan keberbagai penjuru dunia dengan “Al
khair” sangat penting. Diselaraskan dengan kader HMI yang mulai sekarang harus
kembali kepada ghirah ayat diatas. Dalam himne HMI kata Bahagia menjadi akhir
dalam lagu himne, selaras dengan ayat diatas, maka kata bahagia menjadi kunci
dalam setiap perjuangan. Bahagia menjadi sebuah diksi yang begitu kuat,
“berjuanglah, maka kau akan mendapatkan kebahagiaan dari hasil perjuanganmu”
berbahagia menjadi puncak dari setiap amal, maka kepada setiap kader HMI
berjuanglah, maka akan kau dapatkan kebahagiaan. Insan pencipta yang akan berbahagia
dengan hasil karyanya.
Tujuan HMI
selanjutnya adalah insan pengabdi, ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan
orang banyak atau sesama umat, seruan kebajikan universal dan sadar sebagai
kader dan khalifah fil ard. Seorang insan akademis, pencipta dan mengabdi dan
dengan sungguh-sungguh mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan ilmunya ke
sesama[12].
Tidak ada
definisi yang baku dan standar mengenai tentang globalisasi tetapi menurut
freudman,globalisasi mempunyai tiga dimensi, Dan di era global saat ini yang
begitu mementingkan kepentingan individu diatas kepentingan kelompok atau
khalayak banyak adalah sesuatu yang sangat langka, apalagi ketika kita melihat
kenyataan, bahwa sekarang ini kepragmatisan dan keapatisan lebih berbahaya dari
pada behaya merokok. Ketika merokok yang terbahayakan adalah diri sendiri dan
orang sekitar, maka bahaya dari kepragmatisan dan keapatisan adalah lingkungan
sosial yang begitu luas, ketika semua manusia sibuk dengan dirinya sendiri,
selain ia kehilangan lingkungan sosial ia juga kehilangan hakikat hidup sebagai
khalifah di bumi. Selain ia mengkhianati lingkungan sosial ia juga menghianati
amanah Allah SWT. Sangat berbahaya, kemudian mengapa ini menjadi penting
hakikat dari insan pengabdi. Sebagai mahkluk sosial, manusia tidak mungkin
memenuhi kebutuhan kemanusiaannya dengan baik tanpa berada ditengah sesamanya
dalam bentuk-bentuk hubungan tertentu. Maka dalam masyarakat itulah sikap
sebagai insan akademis, pencipta, pengabdi diwujudkan.namun yang perlu banyak
diperhatikan adalah setiap manusia mempunyai kemerdekaan pribadi, akan timbul
banyak perbedaan-perbedaan antara suatu pribadi dengan lainnya. Maka dari itu
seorang kader HMI harus dapat menyeimbangkan diantara diri sendiri, masyarakat
juga misi yang diemban sebagai kader.
Pemenuhan
suatu bidang kegiatan guna kepentingan masyarakat adalah suatu keharusan,
sekalipun hanya oleh sebagian anggota saja. Di-era global ini menjadi sebuah
tantangan yang sangat besar ketika sebuah kesadaran akan pengabdian diri kepada
masyarakat mulai untuk digeliatkan lagi. Tantangan kepada individu kader itu
sendiri maupun tantangan kepada HMI mau, mampu dan dapat bertahankah dari
godaan ke-pragmatisan juga ke-apatisan Namun sejalan dengan semboyan insan
akademis, pencipta, dan pengabdi, dalam kehidupan yang teratur tiap-tiap kader
harus berjuang dan diberi kesempatan untuk mengembangkan kecakapannya melalui
aktifitas dan kerja yang sesuai dengan kecenderungannya dan bakatnya.
Insan
akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam. Bernafaskan Islam,
islam ditempatkan, ditempat dimana ia menjadi sesuatu yang melekat sangat kuat
dan penting. Sebagai makluk hidup, tentu saja bernafas, maka seorang akan mati,
begitu pula dengan bernafaskan Islam. Tanpa diperintahpun, Islam selalu akan
ada dalam setiap langkah yang diambil. Islam menjadi bagian yang tak
terpisahkan dengan kader. Ajaran Islam menjadi Unity personality yang tak
terpisahkan, seperti nafas yang selalu ada dalam tiap detik yang dilewati oleh
makhluk hidup. Sehingga rasa susah dalam hatinya dalam setiap perjuangan tidak
dirasakan, yang ada hanya rasa bahagia seperti yang termaktub dalam surat
diatas.
Kualitas
insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang
diridhoi oleh Allah SWT. Sebuah rasa taqwa kepada Allah yang ditujukan melalui
rasa tanggung jawab kepada Allah sebagai khallifah di bumi melalui mewujudkan
tatanan masyarakat yang adil dan makmur. Keadilan dan kemakmuran dua hal yang
tidak terpisahkan, ketika kita berbicara tentang sebuah keadilan dinegeri ini,
maka itu adalah barang mahal yang sangat sulit didapatkan. Bila keadilan belum
dapat ditegakkan sampai kapanpun kemakmuran hanya akan menjadi impian semu.
Rasa solidaritas dinegeri ini sangat kecil, rasa solidaritas hanya timbul
setelah bencana diliput media, setelah kemiskinan mencekik hidup khalayak
banyak. Seseorang tidak akan memikirkan orang lain ketika kepentingannya
sendiri belum tercukupi, inilah mengapa keadilan akan sangat penting.
Keadilan
adalah sebuah aspek penting dalam hidup ini, kerena adil merupakan satu dari
Asmaul Husna; al-adlu atau maha adil. Ini yang akan kemudian menjadi penyebab
kemakmuran. Tanpa keadilan maka tidak aka nada kemakmuran, tapi bila sebuah
Negara sudah adil maka kemakmuran akan mengikuti. Seperti yang tertulis dalam
sejarah tentang keadilan yang diciptakan dalam pemerintahan Rosulullah, maka
kemakmuran akan senantiasa melingkupi masyarakatnya, lalu ridho Allah SWT
menghiasi kehidupan penduduknya.
Manusia
akan merasakan akibat amal perbuatannya sesuai dengan ikhtiar Semakin seseorang
bersungguh-sungguh dalam kekuatan yang bertanggung jawab dengan kesadaran
sebagai insan akademis pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam yang terus
menerus mewujudkan akan tujuan dalam membentuk masyarakat adil makmur yang
diridhoi Allah semakin ia mendekati tujuan.
Ketika kita
berbicara HMI, maka telah lengkap apa yang ada didalamnya, dengan tujuan HMI
maka Indonesia adil makmur bukanlah impian. Namun kemundurun sapai saat ini
masih terjadi begitu kuat di HMI sendiri. Maka dibutuhkan kerja kerasbegi para
keder. Mengoptimalkan fungsi HMI akan menjawab krisis SDM yang saat ini dialami
oleh bangsa tercinta ini. Arus globalisasi memag tidak dapat ditolak, namun
bila SDM bangsa ini mampu, maka jati diri bangsa tidak akan terombang-ambing ditengah
gerusan arus Globalisasi.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas di simpulkan bahwa di dalam organisasi
khususnya di dalam organisasi HMI harus memiliki kuantitas kader karena
Organisasi, apapun itu mutlak mensyaratkan kaderisasi. Kecuali bila organisasi
anda adalah organisasi diri sendiri, yang anggotanya anda sendiri. Karena
kaderisasi merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa
kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak
dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Dan para
kader HMI haruslah sadar akan irinya sebagai manusia yang memiliki tanggung
jawab kepada Allah SWT, maka dari itu tidak hanya adanya kuantitas tapi harus
adanya kualitas di setiap diri para kader HMI dan di atas kita sudah membahas
tentang kualitas kader HMI itu seperti apa dan harus bagaimana? Kualitas kader
HMI itu sudah dirumuskan dalam (pasal 5 AD HMI), Tujuan HMI adalah “Terbinanya
insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab
atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”, Dari tujuan tersebut dapat dirumuskan menjadi
lima kualitas insan cita, yakni kualitas insan akademis, kualitas insan
pencipta, kualitas insan pengabdi, kualitas insan bernafaskan Islam, dan
kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur
yang diridhoi Allah SWT.
Berarti kalau kita sudah mengetahui tentang apa itu kualitas insan cita
HMI berarti setiap para kader harus memiliki kualitas tersebut dan kalau para
kader sudah memiliki kualitas insan cita haruslah mereka dapat
mengaktualisasikan dirinya di dalam era globalisasi sa’at ni maupun dapat
menyongsong era globalisasi yang akan datang, setelah kita mengetahui tentang
era globaisasi sa’at ini pastilah kader HMI harus bahkan wajib untuk dapat
mengaktualisasikan dirinya di era globalisasi ni, karena apa? Karena kader HMI
yang berkualitas insan cita bisa di katakan
sebagai tulang punggung peradaban ini, karena para kader yang mempunyai
kualitas ini sudah mempunyai bekal dan pikiran yang sangat matang dan
insya’allah di ridloi oleh Allah SWT, dan para kader haruslah sadar untuk dapat
mengaktualisasikan dirinya dalam menyongsong era globalisasi yang lebih
sejahtera adil makmur yang di ridloi oleh Allah SWT dan sebagaimana yang di
cita-cita kan oleh HMI.
B.
Saran
Di harapkan para kader sadar untuk
dapat membuat dirinya berkualitas insan cita HMI, dan jangan hanya kuantitas
saja yang di soroti tapi kualitas kader harus sangat sangat sangat di soroti
karena para kader yang berkualitas insan cita HMI harus dapat
mengaktualisasikan dirinya untuk menyongsong era globalisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Ir. Erman Suparno, MSi.,
MBA. 2009. “National Manpower Strategy (Strategi Ketenagakerja’an
Nasional)” Jakarta: Kompas.
Adnan Buyung Nasution. 1999. “Federalisme Untuk Indonesia.” Jakarta : Kompas.
Dr. Hj.
Erni Rernawan, S.E., M.M. 2011. “Organization Culture, Budaya Organisasi Dalam Perspektif Ekonomi Dan
Bisnis”, Bandung: Alfarbeta.
Drs. H. Malayu, S.P. Hasibuan. 2005. ”Organisasi Dan Motivasi, Dasar Peningkatan Produktivitas”. Jakarta:
Bumi Pustaka.
Nabil Abdurahman 31 Oktober 2009, “Peranan Pemuda Indonesia dalam
Pergerakan Kemerdekaan”, Wordperss.
Thomas I, Friedman. 2002. “Memahami Globalisasi”. Bandung: lexus
dan pohon zaitun.
[4] _Dr. Hj. Erni Rernawan, S.E., M.M,
Organization Culture, Budaya Organisasi Dalam Perspektif Ekonomi Dan Bisnis,
Bandung: Alfarbeta, 2011, Hlm 15
[5] _ Drs. H.
Malayu, S.P. Hasibuan, Organisasi Dan Motivasi, Dasar Peningkatan
Produktivitas, Jkarta: Bumi Pustaka, 2005, Hlm 25
[11] _ Nabil Abdurahman, Peranan
Pemuda Indonesia dalam Pergerakan Kemerdekaan, Wordperss: 31 Oktober 2009
Hlm 1
No comments:
Post a Comment