Friday, March 25, 2016

Contoh Makalah LK 2 HMI



Tema :
MEMBANGUN CULTUR INTELEKTUAL KADER HmI BERKUALITAS INSAN CITA

JUDUL :
KESADARAN MEMBANGUN KUANTITAS DAN KUALITAS KADER DENGAN AKTUALISASI KUALITAS INSAN CITA DALAM MENYONGSONG ERA GLOBALISASI

PENYUSUN :

Nama              : MUHAMMAD ZA’MUL UMAM
Alamat Email : umamzaim@yahoo.co.id
Nomor Hp      : 089506763351

Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Semarang (HMI)
Cabang Semarang
 

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puja dan Puji syukur tercurahkan kepada Allah SWT,  karena atas limpahan dan karunia-Nya. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Manusia istimewa yang seluruh perilakunya layak untuk diteladani, yang seluruh ucapannya adalah kebenaran, yang seluruh getar hatinya kebaikan. Sehingga Penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Saya sangat tertarik untuk mengajukan Judul : KESADARAN MEMBANGUN KUANTITAS DAN KUALITAS KADER DENGAN AKTUALISASI KUALITAS INSAN CITA DALAM MENYONGSONG ERA GLOBALISASI
  Banyak kesulitan dan hambatan yang saya hadapi dalam membuat makalah ini tapi dengan semangat dan kegigihan serta arahan, bimbingan dari berbagai pihak sehingga Penulis mampu menyelesaikan makalah ini dengan baik, oleh karena itu pada kesempatan ini, Penulis mengucapkan terima kasih kepada : ALLAH SWT karena berkat rahmatnya saya dapat menyelesaikan makalah ini.
saya menyimpulkan bahwa makalah ini masih belum sempurna, oleh karena itu saya menerima saran dan kritik, guna kesempurnaan tugas mandiri ini dan bermanfaat bagi saya dan pembaca pada umumnya.



Semarang, September 2015


Penyusun


DAFTAR ISI
Kata Pengantaar................................................................................................................ i
Daftar Isi............................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang........................................................................................................ 1
B.     Rumusan Masalah.................................................................................................... 3
C.     Tujuan Penulisan...................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengaruh Kuantitas dan Kualitas Kader Didalam Organisasi
Maupun Masyarakat................................................................................................ 5
B.     Ruang Lingkup Insan Cita Didalam HMI Khususnya Di Tujuan HMI.................. 9
C.     Cara Membangun Kesadaran Kualitas Insan Cita Disetiap Diri Para Kader.......... 14
D.    Aktualisasi Kader Yang Berkualitas Insan Cita Dalam Menyongsong
 Era Globalisasi........................................................................................................ ` 20
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan.............................................................................................................. 25
B.     Saran........................................................................................................................ 26
DAFTAR PUSTAKA
 

BAB IBAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Di kala sebuah organisasi yang sangat membutuhkan regenerasi,di saat itu juga realitas hanya memberikan sedikit anggota pada organisasi tersebut. Maka,organisasi tersebut akan bertemu dengan sebuah permasalahan moralitas yang besar,yakni “kualitas atau kuantitas?[1] Di sinilah akan terjadi perdebatan yang sengit dan cukup menguras sedemikian banyak pemikiran pula. Keputusan pun akan menemui titik kesulitan. Karena terjadi benturan yang cukup keras pada kedua pandangan tersebut. Menurut (Mohammad Hatta, Daulat Rakyat no.23, 20-4-1932) “kita juga akan menyusun per-satu-an, maka itu akan menolak per-sate-an”[2]
Pengertian kualitas ialah tingkat baik buruknya atau taraf atau derajat sesuatu. Istilah ini lebih sering digunakan pada bidang bisnis, teknis dan lain sebagainya. Ukuran dari sebuah kualitas ialah di saat ukuran tersebut dinilai oleh baik atau buruknya sesuatu. Jika ada sebuah perusahaan yang menghasilkan produk buruk, maka kualitas dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan itu ialah buruk. Itulah standard yang ditentukan oleh apa yang dinamakan oleh kualitas. Lalu, bagaimana dengan kuantitas? Situs artikata.com memberikan arti dari kata kuantias, yakni banyaknya atau jumlah. Berbeda halnya dengan kualitas yang memiliki standard ukuran dengan baik atau buruk. Sedangkan kuantitas lebih terarah pada jumlah sesuatu. Jika sebuah perusahaan mampu menghasilkan produksi yang banyak, maka itu disebut sebagai kuantitas.
Kualitas menurut Juran (1962) kualitas adalah kesesuaian dengan tujuan atau manfaatnya. Crosby (1979) “kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan yang meliputi availability, delivery, realibility, maintainability, dan cost effectivenes  Feigenbaum (1991) “kualitas merupakan keseluruhan karakteristik produk dan jasa yang meliputi marketing, engineering, manufacture , dan maintenance,dalam mana produk dan jasa tersebut dalam pemakaianya akan sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan.”  Ariani (2004:3) ada dua segi umum tentang kualitas yaitu, kualitas rancangan dan kualitas kecocokan. Semua barang dan jasa dihasilkan dalam berbagai tingkat kualitas. Variasi dalam tingkat ini memang disengaja. Sedangkan Deming berpendapat Pengertian Definisi Kualitas adalah “mempertemukan kebutuhan dan harapan konsumen secara berkelanjutan atas harga yang telah merekabayarkan”. Filosofi Deming membangun kualitas sebagai suatu sistem (Bhat dan Cozzolino, 1993:106).
Dan sedangkan apa itu kualitas insan cita HMI? kualitas insan cita HMI adalah merupakan dunia cita yakni ideal yang terwujud oleh HMI di dalam pribadi seorang manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Kualitas tersebut sebagaimana dirumuskan dalam pasal tujuan (pasal 5 AD HMI), Tujuan HMI adalah “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”,  Dari tujuan tersebut dapat dirumuskan menjadi lima kualitas insan cita, yakni kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta, kualitas insan pengabdi, kualitas insan bernafaskan Islam, dan kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Dan apa itu era Globalisasi? Era Globalisasi itu dapat dijelaskan dari dua kata yang membangunnya yakni kata “era” dan “globalisasi”. Sebuh kritik tajam di lontarkan Benyamin Lakitan Sekretaris Menteri Negara Riset dan Teknologi. Katanya, tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi semakin meningkat akibat “jebakan” pendidikan. Mereka di biarkan menamatkan kuliahnya, tetapi sulit mendapatkan pekerja’an. “upaya mencetak makin banyak tenaga terdidik memang penting, tetapi relevansi pendidikan jauh lebih penting,”[3]. Era berarti zaman atau kurun waktu, sementara globalisasi berarti proses mengglobal atau mendunia. Dengan demikian era globalisasi berarti zaman yang di dalamnya terjadi proses mendunia. Proses mendunia ini yang terjadi sejak tahun 1980-an itu terjadi di berbagai bidang atau aspek kehidupan manusia, misalnya di bidang politik, sosial, ekonomi, agama, dan terutama sekali globalisasi di bidang teknologi. Suatu perbuatan atau perkara pasti mempunyai dampak dan dampak dari globalisasi itu sendiri terbagi menjadi 2 yaitu dampak positif dan dampak negatif,adapun salah satu dampak positifnya adalah “Era Globalisasi dapat memungkinkan terjadinya perubahan besar pada pola hidup manusia, misalnya pada cara kerja manusia: manusia akan semakin aktif dalam memanfaatkan, menanam, dan memperdalam kapasitas individunya manusia semakin ingin menampilkan nilai-nilai manusiawi dan jati diri budayanya. Dan sedangkan salah satu dampak negatif dari Globalisasi adalah Walaupun globalisasi tidak bisa langsung diidentikkan dengan westernisasi namun globalisasi sesungguhnya mungkin dapat menyebabkan terjadinya masyarakat yang individualistis dan tidak religius.
Nah dari pengertian diatas yang menyebutkan dan menerangkan mengenai tentang kuantitas itu seperti apa?, dan kualitas itu seperti apa?, kemudian insan cita HMI itu bagaimana?, pengertian era globalisasi dan dampak adanya era globalisasi, maka dari itu di pnysun mengangkat judul “Kesadaran Membangun Kuantitas Dan Kualitas Kader Dengan Aktualisasi Kualitas Insan Cita Dalam Menyongsong Era Globalisasi”. Yang nantinya akan di bahas selanjutnya.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan di atas, terdapat adanya beberapa permasalahan yang dapat di rumuskan dan akan dibahas dalam makalah ini sebagai berikut :
1.      Apa pengaruh kuantitas dan kualitas kader di dalam organisasi maupun masyarakat ?
2.      Apa saja ruang lingkup insan cita di dalam HmI khususnya di dalam tujuan HMI ?
3.      Bagaimanakah cara membangun kesadaran kualitas insan cita di setiap diri para kader ?
4.      Bagaimanakah aktualisasi kader yang berkualitas insan cita dalam menyongsong era globalisasi ?

C.    Tujuan Penulisan
Sebagai referensi kita agr kita dapa mengetahui mkna beserta arti subtansi dari rumusan masala tersebut ialaha :
1.      Untuk mengetahui apa saja faktor yang bisa menyebabkan adanya kuantitas dan kualitas.
2.      Untuk mengetahui bagaimana membangun kesadaran untuk meningkatkan kualitas di setiap diri para kader.
3.      Untuk mengetahui apa saja karateristik nsan cita yang di cita-cita kan oleh HMI.
4.      Untuk mengetahui bagaimana upaya kader yang mempunyai kualitas insan cita bisa menyongsong era globalisasi.

















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengaruh Kuantitas Dan Kualitas Kader Di Dalam Organisasi Maupun Masyarakat
Sebelum masuk kedalam pembahasan kualitas kader, terlebih dahulu kita membahas tentang kuantitas kader karena apa?, sebelum adanya kualitas kader pastilah kuantitas kader di dalam organisasi harus di perhitungkan terlebih dahulu. Karena yang kita bahas sa’at ini adalah seorang kader maka saya akan menyinggung tentang kuantitas kader di dalam sebuah organisasi. Kaderisasi adalah proses pendidikan jangka panjang untuk menanamkan nilai-nilai tertentu kepada seorang kader. Siapakah kader? Kader adalah anggota, penerus organisasi. Nilai-nilai apa? Nilai-nilai yang diyakini bersama sebagai pembentuk watak dan karakter organisasi.
Organisasi, apapun itu mutlak mensyaratkan kaderisasi. Kecuali bila organisasi anda adalah organisasi diri sendiri, yang anggotanya anda sendiri. Organisasi terpimpin sekalipun, dimana si Ketua menjadi Ketua sepanjang hidupnya tetap saja membutuhkan regenerasi untuk rekan kerjanya. Organisasi merupakan suatu kesatuan sosial dari sekelompok manusia yang saling berinteraksi menurut  suatu pola tertentu sehingga setiap anggota organisasi memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing, sebagai suatu kesatuan yang memiliki tujuan tertentu dan mempunyai batas-batas yang jelas, sehingga bisa dipisahkan. (Mathis dan Jackson)[4]
Sebuah organisasi dapat kita analogikan sebagai sebuah bangunan. Sebuah bangunan tentunya harus memiliki pondasi yang kuat agar bangunan tersebut dapat tetap kokoh. Dalam sebuah organisasi salah satu pondasi yang diprelukan adalah kaderisasi. Kaderisasi dalam sebuah organisasi dapat kita artikan sebagai proses penurunan nilai kepada individu dimana nilai atau nilai-nilai tersebut adalah sesuatu yang memang dibutuhkan untuk menyiapkan individu tersebut melaksanakan tujuan organisasi yang mengkadernya. Organisasi sebagai fungsi manajemen (organisai dalam pengertian dinamis) adalah yang memberikan kemungkinan bagi manajemen dapat bergerak dalam batas-batas tertentu. (Drs. Soekarno. K)[5]
Kaderisasi merupakan merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Kaderisasi adalah sebuah keniscayaan mutlak membangun struktur kerja yang mandiri dan berkelanjutan. Fungsi dari kaderisasi adalah mempersiapkan calon-calon (embrio) yang siap melanjutkan tongkat estafet perjuangan sebuah organisasi. Kader suatu organisasi adalah orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai keterampilan dan disiplin ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan yang di atas rata-rata orang umum. Bung Hatta pernah menyatakan kaderisasi dalam kerangka kebangsaan, “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam”.
Dan di dalam sebuah usaha yaitu pengkaderan pasti adanya keberhasilan dan kegagalan, dan disini saya juga akan menyinggung tentang kegagalan dalam usaha ini “pengkaderan”, Apa yang terjadi bila Kaderisasi gagal?, Yang akan terjadi adalah, nilai-nilai organisasi tidak sampai kepada generasi berikutnya. Generasi sebelumnya akan selalu memikul beban sejarah sendiri selamanya. Kaderisasi gagal biasanya terjadi karena beberapa hal :
a.       Pelatih/Senior tidak memiliki kemampuan melatih.
b.      Pelatih/Senior tidak memiliki kemauan melatih.
c.       Tidak ada anggota/kader untuk dilatih.
Sebab kesatu muncul karena senior hanya bersandar kepada pengalaman yang dimiliki. Seorang pelatih yang baik mutlak perlu cukup bacaan. Inilah yang membedakan seorang tukang dengan insinyur. Dalam kaderisasi, pelatih/senior harus mampu mengkomunikasikan ilmu dan pengalaman.
Sebab kedua yang paling memprihatinkan. Kemauan adalah awal dari semuanya terjadi.
Jika tidak ada kemauan melatih dari senior, maka carilah orang lain. Jika tidak ada, jadilah pelatih bagi anda dan teman-teman. Jangan biarkan orang yang sedang sekarat ini membuat matinya organisasi.
Sebab ketiga adalah alasan mengapa organisasi harus melakukan penerimaan anggota. Janjikanlah kepada calon anggota, hal-hal yang bisa organisasi berikan. Jangan belagak seperti kebanyakan politikus : over promise under deliver . Ada yang mungkin mengatakan tidak penting kuantitas anggota yang penting kualitas.
Realitas menyatakan sebaliknya, kuantitas dulu baru kualitas.
Dalam perjalanan organisasi kualitas seorang kader akan diuji oleh komitmennya, dan yang pasti: waktu, Seberapa lama ia mampu bertahan, dan memberikan yang terbaik. Kalau di atas tadi kita sudah menyinggung tentang kuantitas kader sekarang kita akan membahas tentang kualitas kader di dalam organisas, karena kita adalah para kader HMI maka di sini saya akan menyinggung problematika kualitas kader yang ada di dalam organisasi ini, Realitas hari ini HMI tenyata hanya dipandang sebagai organisasi yang mampu melahirkan kader kader yang oppurtunis, kader yang hanya memikirkan diri sendiri bagaimana mendapatkan jabatan distruktur pemerintahan.
Kader yang tidak visioner tentunya memberikan dampak buruk terhadap implementasi mission HMI. Berdasarkan kompleksitas masalah yang dihadapi organisasi ini tentu dibutuhkan evaluasi serta reformasi besar-besaran di internal HMI. Banyak faktor yang menyebabkan kemunduran HMI baik distruktur paling tinggi hingga ke struktur yang paling rendah.
Secara normatif regenarasi kader adalah keniscayaan pada setiap organisasi, kesadaran kader kembali mesti dibangkitkan sebagai pelanjut dari perjuangan organisasi. Kesadaran kader kembali mesti dipicu untuk melanjutkan mission HMI, dan kesadaran tersebut akan terbentuk di forum-forum pelatihan HMI. Kualitas kader sangat tergantung dari konsep dan pola perkaderan yang dibangun disetiap forum pelatihan, jika pelatihan hanya dijadikan sebagai rutinitas belaka tanpa ada makna perjuangan maka ini lah yang menjadi salah satu permasalahan mendasar kemunduran HMI. Di setiap training-training lah watak dan karakter kader dibentuk, dengan adanya Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang disampaikan di LK I diharapkan NDP tersebut dijadikan sebagai konsepsi teoritis setiap kader untuk menjalani rutinitasnya sebagai insan intelektual dan insan perubahan. Pemahaman yang utuh terhadap NDP sangat berpengaruh secara praksis bagi tingkah laku kader HMI. Pemaknaan akan dasar perjuangan tersebut memberikan konstribusi besar akan impementasi tujuan HMI ditengah kompleksitas bangsa yang telah mempengaruhi mindset mahasiswa dan masyarakat.
Karakter kader HMI yang kritis dan intelek merupakan ekspektasi dari orientasi training, kader HMI mestinya menjadi cerminan bagi setiap mahasiswa yang mengharapkan perubahan secara totalitas terhadap karakter berpikir yang dipahami sebelumnya. Karena HMI berperan sebagai organisasi perjuangan[6]. Organisasi perkaderan idealnya akan mengahasilkan kader-kader yang intelek,kritis dan kooperatif sehinggan mission organisasi akan terealisasikan dengan adanya kesadaran kolektif bagi seluruh stackholder yang ada di Internal HMI. Kolektifitas kader sangat dibutuhkan guna terciptanya Insan pencipta serta pengabdi, keniscayaan yang tak bisa ditolak bagi seluruh kader yakni loyalitas, militansi dan tanggungjawab akan visi, misi dan tujuan dari organisasi.
Dilain pihak agar tujuan organisasi tersebut tercapai, produktifitas dari struktur organisasi sangat diharapkan , kesadaran kolektif dan kooperatif yang menjadi tumpuan bagi setiap kader dalam menjalani setiap proses yang ada. Dinamika organisasi jangan dipandang sebagai hal yang negatif melainkan dipandang sebagai hal yang positif bagi perkembangan organisasi tersebut. HMI yang memilik struktur organisasi yang kompleks merupakan upaya untuk merealisasikan dari tujuan organisasi. Kesadaran akan tanggungjawab struktur pun menjadi tutntutan setiap kader yang mengemban aman organisasi. Bukan hanya sekedar menduduki jabatan di HMI melainkan harus mempertanggungjawabkan secara konstitusional terhadap jabatan yang diemban. Pemahaman akan fungsi dan wewenang dari jabatan yang diamanahkan selalu menjadi pahaman dasar bagi kader, capability serta responsibility syarat mesti bagi kader yang duduk distruktur organisasi. Manajerial organisasi yang efektif sangat menunjang terciptanya cita-cita organisasi.
Masa depan HMI yang cerah menjadi harapan seluruh anggota dan kader yang berkiprah menjadi pioner-pioner organisasi. sehingga para insan kader HMI siap dan dapat dimanfaatkan oleh seluruh golongan yang ada ditengah-tengah masyarakat selagi tujuannya tidak bertentangan denganmission HMI[7], dan juga ikut berjuang mempertahankan eksistensi HMI sebagai organisasi pergerakan menjadi landasan utama agar organisasi mampu melakukan perubahan sosial ditengah arus zaman yang semakin mencekam perkembangan kemanusian manusia. Kader HMI sebagai aktor intelektual semestinya memainkan peran sebagai sosok pembaharu yang memperjuangkan keadilan akan ketimpangan sosial. Ketidakmampuan HMI menjawab tantangan realitas menjadi masalah besar terhadap transformasi sosial masyarakat adil dan makmur. Oleh karena itu berhasil tidaknya eksistensi HMI menjaga kejayaan masa lalu dan tradisi Intelektual kini ada dipunggung kader sebagai pelanjut dari tongkat estafet perjuangan. Kini dan akan datang potensi kader menjadi harapan besar organisasi untuk kembali berkiprah berada di posisi terdepan untuk merumuskan solusi alternatif berbagai macam problem yang menjadi benteng penghalang terhadap proses perubahan dan transformasi sosial bangsa dan ummat.

B.     Ruang Lingkup Insan Cita Di Dalam HMI Khususnya Di Dalam Tujuan HMI
Kualitas insan cita HMI adalah merupakan dunia cita yakni ideal yang terwujud oleh HMI di dalam pribadi seorang manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Kualitas tersebut sebagai mana dirumuskan dalam pasal tujuan (pasal 4 AD HMI)[8] adalah sebagai berikut:
1.      Kualitas Insan Akademis :
Ø  Berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis.
Ø  Memiliki kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan. Dia selalu berlaku dan menghadapi suasana sekelilingnya dengan kesadaran.
Ø  Sanggup berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu yang dipilihnya, baik secara teoritis maupuan teknis dan sanggup bekerja secara ilmiah yaitu secara bertahap, teratur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan.

2.      Kualitas Insan Pencipta; Insan Akademis, Pencipta :
Ø  Sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada, dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik dan bersikap dengan bertolak dari apa yang ada (yaitu Allah). Berjiwa penuh dengan gagasan-gagasan kemajuan, selalu mencari perbaikan dan pembaharuan.
Ø  Bersifat independen dan terbuka, tidak isolatif, insan yang menyadari dengan sikap demikian potensi, kreatifnya dapat berkembang dan menemukan bentuk yang indah-indah.
Ø  Dengan ditopang kemampuan akademisnya dia mampu melaksanakan kerja kemanusiaan yang disemangati ajaran Islam.

3.      Kualitas Insan Pengabdi; Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi :
Ø  Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau untuk sesama umat.
Ø  Sadar membawa tugas insan pengabdi bukanya hanya membuat dirinya baik, tetapi juga membuat kondisi sekelilingnya menjadi baik.
Ø  Insan akademis, pencipta dan pengabdi adalah yang pasrah cita-citanya yang ikhlas mengamalkan ilmunya untuk kepentingan sesamanya.

4.      Kualitas Insan yang bernafaskan Islam: Insan Akademis, Pencipta dan Pengabdi yang bernafaskan Islam :
Ø  Islam yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola pikir dan pola lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam akan menjadi pedoman dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan mission Islam. Dengan demikian Islam telah menafasi dan menjiwai karyanya.
Ø  Ajaran Islam telah berhasil membentuk “unity of personality” dalam dirinya. Nafas Islam telah membentuk pribadinya yang utuh tercegah dari split personality tidak pernah ada dilema antara dirinya sebagai warga negara dan dirinya sebagai muslim insan ini telah meng-integrasi-kan masalah suksesnya dalam pembangunan Nasional bangsa ke dalam suksesnya perjuangan umat Islam Indonesia dan sebaliknya.

5.      Kualitas insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT :
Ø  Insan akademis, Pencipta dan Pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Ø  Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat yang dari perbuatannya sadar bahwa menempuh jalan yang benar diperlukan adanya keberanian moral.
Ø  Spontan dalam menghadapi tugas, responsif dalam menghadapi persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis.
Ø  Rasa tanggung jawab taqwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk mengambil peran aktif dalam suatu bidang dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
Ø  Korektif terhadap setiap langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
Kalau kita bicara mengenai tentang masyarakat adil dan makmur yang diridloi Allah SWT maka kita harus mengetahui bahwa Masyarakat muslim di indonesia merupakan jumlah penduduk yang terbesar di bandingkan dengan jumlah penduduk agama yang lain yaitu di perkirakan sebesar 87 persen[9]. Karateristik masyarakat Indonesia berpaham ketuhanan untuk itu dapat di katakan bahwa paham kemasyarakatan bangsa Indonesia adalah ketuhanan, yang dalam pancasila dinyatakan “Ketuhanan Yang Maha Esa”,dan percaya pada diri sendiri dan sadar akan kedudukannya sebagai “khalifah fil ardhi” yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan.
Pada pokoknya insan cita HMI merupakan “Man of future” insan pelopor yaitu insan yang berfikiran luas dan berpandangan jauh, bersifat terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara operatif bekerja sesuai yang dicita-citakan.
Ideal type dari hasil perkaderan HMI adalah “Man of inovator” (duta-duta pembaharu). Penyuara “Idea of progress” insan yang berkepribadian imbang dan padu, kritis, dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah SWT. Mereka itu manusia-manusia yang beriman berilmu dan mampu beramal soleh dalam kualitas yang maksimal (insan kamil).
Dari lima kualitas lima insan cita tersebut pada dasarnya harus dipahami dalam tiga kualitas insan Cita yaitu kualitas Insan akademis, kualitas insan pencipta dan kualitas insan pengabdi. Ketiga kualitas insan pengabdi tersebut merupakan insan Islam yang terefleksikan dalam sikap senantiasa bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adi dan makmur yang diridhoi Allah SWT.Dalam setiap organisasi khususnya HMI kader memiliki peran sentral, dimana kader sebagai agen dalam rangka menerapkan cita perjuangan HMI yang sesuai dengan Tujuan HMI yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwjudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT sehingga dibutuhkan kader yang berwawasan keislaman, keindonesiaan, dan kemahasiswaan dengan lima kualitas insan cita dan bersifat independen dalam rangka mengemban amanah organisasi. Organisasi menurut Haleigh B. Trecker adalah merupakan suatu kegiatan atau suatu proses menghimpun atau mengatur kelompok-kelompok yang saling mengadakan hubungan dari unit perwakilan kedalam suatu pekerjaan yang menyeluruh.[10]
Percaya pada diri sendiri dan sadar akan kedudukannya sebagai “khalifah fil ardhi” yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan. Pada pokoknya insan cita HMI merupakan “Man of future” insan pelopor yaitu insan yang berfikiran luas dan berpandangan jauh, bersifat terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara operatif bekerja sesuai yang dicita-citakan. Ideal type dari hasil perkaderan HMI adalah “Man of inovator” (duta-duta pembaharu). Penyuara “Idea of progress” insan yang berkepribadian imbang dan padu, kritis, dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah SWT. Mereka itu manusia-manusia yang beriman berilmu dan mampu beramal soleh dalam kualitas yang maksimal (insan kamil).
Setiap anggota HMI berkewajiban berusaha mendekatkan kualitas dirinya pada kualitas insan cita HMI seperti tersebut di atas. Tetapi juga sebaliknya HMI berkewajiban untuk memberikan pimpinan, bimbingan dan kondusif bagi perkembangannya potensi kualitas pribadi-pribadi anggota-anggota dengan memberikan fasilitas-fasilitas dan kesempatan-kesempatan.
Kemudian untuk itu setiap anggota HMI harus mengembangkan sikap mental pada dirinya yang independen untuk itu :
·         Senantiasa memperdalam hidup kerohanian agar menjadi luhur dan bertaqwa kepada Allah SWT.
·         Selalu tidak puas dan selalu mencari kebenaran.
·         Jujur dan tidak mengingkari hati nurani atau hanief.
·         Teguh dalam pendirian dan obyektif rasional menghadapi pendirian yang berbeda.
·         Bersifat kritis dan berfikir bebas kreatif.
·         Hal tersebut akan diperoleh antara lain dengan jalan:
·         Senantiasa mempertinggi tingkat pemahaman ajaran Islam yang dimilikinya dengan penuh gairah.
·         Aktif berstudi dalam fakultas yang dipilihnya.
·         Mengadakan tentir club untuk studi ilmu jurusannya dan club studi untuk masalah kesejahteraan dan kenegaraan.
·         Giat dalam studi dan selalu mengikuti perkembangan situasi.
·         Selalu mengadakan perenungan terhadap ilmu-ilmu yang sudah dimilikinya dan mengemukakan pendapatnya sendiri.
·         Selalu hadir dalam forum ilmiah.
·         Memelihara kesehatan badan dan aktif mengikuti karya bidang kebudayaan.
·         Selalu berusaha mengamalkan dan aktif dalam mengambil peran dalam kegiatan HMI.
Bahwa tujuan HMI sebagai dirumuskan dalam pasal AD HMI pada hakikatnya adalah merupakan tujuan dalam setiap anggota HMI. Insan cita HMI adalah gambaran masa depan HMI. Suksesnya seorang HMI dalam membina dirinya untuk mencapai insan cita HMI berarti dia telah mencapai tujuan HMI.
Insan cita HMI ini pada suatu waktu akan merupakan Ïntelectual community”atau kelompok intelegensia yang mampu merealisir cita-cita umat dan bangsa dalam suatu kehidupan masyarakat yang sejahtera spiritual, adil dan makmur serta bahagia (masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT).

C.    Cara Membangun Kesadaran Kualitas Insan Cita Di Setiap Diri Para Kader
Para kader HMI harus mampu megidentifikasi dan merumuskan berbagai jawaban atas tantangan-tantangan yang ada, berorietasi jangka panjang, senantiasa meningkatkan kualitas SDM (dengan penguasaan atas iptek dan memiliki kualitas imtak), sehingga peran para kader HMI betul-betul mampu dirasakan oleh segenap elemen bangsa yang lain. Para kader HMI harus tetap menjadi “manusia pembelajar”  rendah hati dan sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan menguasai teknologi, senantiasa cerdas dan mampun berbuat sekecil apapun bagi masa depan umat dan bangsa Indonesia secara lebih baik. Hasan al-Banna mengatakan: “Dalam setiap kebangkitan sebuah peradaban di belahan dunia manapun maka kita akan menjumpai bahwa pemuda adalah salah satu irama rahasianya”[11]
Dalam keseharian kader, pola fikir dan mentalitas harus menjadi sorotan. sehingga daya dorong HMI terhadap persoalan, tergambar pada penyikapan kader yang memiliki keberpihakan pada kaum tertindas serta memperjuangkan kepentingan kelompok ini dan membekalinya dengan senjata ideologis yang kuat untuk melawan penindas. Mengingat fungsi HMI sebagai organisasi kader, maka seluruh aktivitas atau kegiatan HMI dikembangkan pada penggalian potensi kualitatif pribadi dan anggota–anggota yang militan, memiliki kedalaman pengetahuan dan keimanan, serta mempunyai kesetiaan pada organisasi.
Arah pengkaderan HMI tercermin dalam tujuan HMI, yaitu terbinanya individu yang memiliki kualitas insan cita  (akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan islam, serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT). Kualitas inilah yang harus dimiliki oleh setiapa kader HMI dan menjadi gambaran masa depan anggota HMI, suksesnya anggota HMI dalam membina diri untuk mencapai kualitas insan cita berarti dia telah mawujudkan tujuan HMI.
Kalau kita bicara mengenai tujuan HMI maka kita harus mngerti apa itu sifat independensi HMI, watak atau sifat independen HMI adalah sifat organisasi secara etis merupakan karakter dan kepribadian kader HMI. Implementasinya harus terwujud di dalam bentuk pola pikir pola laku setiap kader HMI baik dalam dinamika dirinya sendiri sebagai kader HMI maupun dalam melaksanakan “Hakikat dan Mission“ organisasi HMI dalam kiprah hidup berorganisasi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Watak independensi HMI  yang tercermin secara etis dalam pola pikir pola sikap dan polalaku setiap kader HMI akan membentuk independensi etis HMI, sementara watak independensi HMI yang teraktualisasi secara organisatoris di dalam kiprah organisasi  HMI akan membentuk independensi organisatoris HMI.
Kalau di sini kita berbicara mengenai tentang membangun kesadaran kader HMI berkualitas insan cita, maka kita harus membangun kembali citra HMI,  Ketika HMI didirikan taun 1947, anggota HMI hanya 15 orang, cabang belum ada, apalagi komisariat, badan koordinasi dan sebagainya berupa aparat yang lazim disebutkan dewasa ini. Namum perkembangannya cukup menanjak, khususnya selama 13 tahun, 1950–1963; baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Terlebih– lebih dari tahun 1964–1965, reputasinya menanjak tinggi, namanya tenar, bukan hanya dikalangan mahasiswa dan kaum terpelajar saja. Tetapi dikenal di segenap lapisan masyarakat, bukan hanya di indonesia, bahkan di luar negeri. Mengapa demikian, karena ulah PKI dan simpatisan-nya, yang ingin membubarkan HMI. Inilah jasa terbesar PKI, CGMI, Pemuda Rakyat, Gerwani, BTI, HSI, dan organisasi masa PKI lainnya, maupun antek- anteknya, yang tergabung dalam persekongkolan jahat, yang telah dipopulerkan HMI,
Bukan karena semata-mata digayang PKI, HMI menjadi besar dan populer. Kebesaran dan kepopuleran HMI datang dari situasi dan kondisi dari tubuh HMI sendiri. HMI tidak akan bertambah kerdil atau besar karena digayang dan mau dibubarkan oleh PKI dan barisan lainnya. Organisasi ini besar karena bekerja tanpa pamrih untuk nusa bangsa dan agama. Indikator itu bisa ditelusuri dari alur perjalanan sejarahnya.
Pertama, kondisi organisasi HMI yang telah merata di kota Perguruan Tinggi. Kedua, dalam tingkatan sekarang ini HMI sudah mencapai tingkatan organisasi modern, walaupun tidak luput dari berbagai kelemahan dan kekurangan. Ketiga, peranan pemuda, mahasiswa dalam kehidupan suatu negara adalah besar dan menentukan. Hal ini bisa disaksikan dalam moment-moment sejarah bangsa Indonesia tahun 1908, 1928, tahun 1945 dan tahun 1966. Keempat , pemikiran dan perjuangan HMI relevan dengan dimensi sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Kelima, Aktivitas HMI berorientasi untuk kepentingan anggotanya dan masyarakat luas. Keenam, secara fisik memiliki lebih dari 150.000 anggota.
Patut dikaji dan direnungkan bahwa masa depan yang cerah dan gemilang itu tidak akan datang begitu saja. Tetapi masa depan yang cerah dan gemilang itu baru bisa dicapai tergantung kepada pengemudi kendali organisasi sejak dari pengurus komisariat, koordinator komisariat, cabang, badan koordinasi , pengurus besar, bahkan anggota dan alumni HMI seluruhnya. Dengan belajar dari pengalaman sejarah yang panjang sebagai guru terbaik dari suatu perjuangan. HMI jangan berorientasi kepada masa lalu, sambil berapologi, senantiasa harus berorientasi kepada masa depan, yang secara riel terbentang dan terhampar luas di hadapan kita.
Masa depan yang cerah harus diciptakan oleh HMI itu sendiri dengan kerja keras, tekun, ulet, tabah, penuh kesadaran dan kesabaran, berencana dan teratur, Citra tunggal yang positif HMI harus diciptakan. Dengan kata lain HMI harus dapat berakar di hati bangsa Indonesia , dan melekat di hati ummat. Menjadi patnership dari pemerintah dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar yang konstruktif menuju masyarakat adul makmur yang diridhoi Allah SWT, berdasarkan pancasila dan undang-undang 1945 secara murni dan konsekwen.
Oleh sebab itu langkah yang harus dilakukan sedini mungkin antara lain :

·        Membina dan menegakkan orisinalitas sejarah dan pemikiran HMI
·        Membiasakan berpikir otonom secara HMI
·        Melakukan konsolidasi organisasi secara berkesinambungan, sebagai masalah dan pekerjaan besar sepanjang masa
·        Pembentukan kader dan aktivis yang tangguh dan tanggap
·        Setiap anggota HMI adalah yang berprestasi dalam bidang studi, dan sukses dalam berorganisasi
·        Memasyarakatkan terus pemikiran HMI
·        Mau belajar dari pengalaman sejarah yang panjang
·        Bersikap teguh dalam prinsip luwes dalam penerapan
·        Mau mengoreksi diri sendiri dan dikorekri orng lain
·        Meningkatkan partisipasi aktif dan konstuktif HMI terhadap pembangunan yang dilaksanakan pemerintah di segala bidang
·        Bekerja sama dengan semua pihak sepanjang tidak menyalahi prinsip-prinsip pedoman organisasi HMI
·        Mengkonsolidasikan keberhasilan dan kemenangan yang sudah dicapai
·        Mengadakan evaluasi secara terus menerus terhadap apa saja yang telah diperbuat, untuk menetapkan kebijakan guna melangkah lebih maju.
·        Tidak cepat puas terhadap apa yang telah diperoleh
·        Perbanyak dan tingkatkan amal ibadah kepada Allah SWT . ( Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia )

Citra organisasi harus selalu dijaga dan ditingkatkan. Menjaga citra HMI sebagai organisasi terbesar dan terbaik merupakan sebuah tantangan yang cukup berat, karena HMI sudah melahirkan ribuan kader dengan sengala plus minusnya.
Menjaga citra membutuhkan komitmen tinggi. Namun demikian perlu disadari bersama citra yang baik akan memberi daya tarik dan kebanggaan tersendiri, karena disadari atau tidak, cerita–cerita miring yang dialami oleh kader dan alumni HMI dalam menjalankan aktivitasnya telah ikut serta menurunkan kebanggaan ber-HMI dan minat menjadi anggota HMI dikalangan mahasiswa dan pemuda. Harus diciptakan citra tunggal bukan ganda untuk HMI kedepannya.
Kita kembali ke topik pembahasan mengenai tentang sifat independensi HMI, konsekuensi pencantuman sifat HMI sebagai organisasi yang independen dalam Konstitusi HMI memerlukan suatu penjelasan untuk dijadikan pedoman dalam perjuangan Naskah Tafsir Independensi HMI memuat empat bagian. Pertama, Pendahuluan yang menerangkan bahwa menurut fitra kejadian, manusia itu diciptakan dalam keadaan bebas dan merdeka. Oleh karena itu HMI sebagai organisasi mahasiswa harus pula bersikap independen. Kedua, status dan fungsi HMI, yang memilih watak dan sifat kepeloporan, kekaderan, yang berfungsi sebagai agent “of social change”. Ketiga, sifat independensi HMI, yang merupakan sifat organisasi, maka implementasinya perlu diwujudkan dalam bentuk sikap-sikap sebagai penjabaran, yaitu;

·        Cenderung kepada kebenaran ( Hanif ).
·        bebas , merdeka , dan terbuka.
·        objektif , rasional dan kritis.
·        progresif dan dinamis.
·        demokratis , jujur , dan adil.
                                           
Keempat, peranan HMI dimasa depan. Kader HMI merupakan investasi manusia yang besar dan berarti, yang dimasa mendatang akan menduduki jabatan dan fungsi pimpinan yang sesuai bakat dan profesinya. Dengan sifat dan garis independen yang menjadi watak, dan menempuh jalan atas dasar keyakinan dan kebenaran. Konsekuensinya bahwa aktivis, fungsionaris, dan kader HMI harus memiliki lima kualitas insan cita.
Pemikiran lain yang bisa dilihat dari sifat independensi HMI adalah karena kemajemukan bangsa Indonesia, yang ditandai dengan banyaknya agama, partai politik, yang beraneka ragam coraknya, suku, daerah, kebudayaan. Untuk menghadapi masyarakat yang pluralistik seperti itu HMI harus independen, agar dapat berdiri tegak di tengah-tengah bangsa Indonesia untuk mencapai tujuannya. Dari berbagai sudut pandang , baik dari dalam dan terlebih lagi dari luar, HMI sering disebut tidak Independen, atau telah bergeser sifat independensinya. Kritik yang tajam itu pula tidak membuat HMI bergeser dari pendiriannya untuk tetap tegak, bahwa HMI adalah organisasi yang independen sejak awal berdirinya, sekarang, dan yang akan datang. Untuk dapat mempertahankan makna Independen dalam diri setiap kader HMI dan dapat menjadi karakter setiap kader HMI di setiap aktivitasnya maka perlu adanya metode penyampaian tafsir independensi di setiap training agar dapat dipahami dan diamalkan, metode yang dirasa bisa maksimal adalah metode belajar mandiri. Belajar mandiri adalah metode khas belajarnya orang dewasa, meskipun asil yang optimal akan terwujud justru sikap belajarnya dilakukan dengan gembira dan tanpa beban.
Beberapa ciri belajarnya orang dewasa yang dapat menumbuhkan kesadaran dalam diri, sebagai berikut :
·        Kegiatan belajar bersifat self directing mengarahkan diri sendiri dan tidak tergantung kepada orang lain.
·        Pertanyaan–pertanyaan yang timbul dalam proses pembelajaran dijawab sendiri atas dasar pengalaman.
·        Tidak mau didekte guru, karena mereka tidak mengharapkan secara terus– menerus.
·        Orang dewasa mengaharapkan penerapan dengan segala dari apa yang dipelajari.
·        Lebih senang dengan partisipasi aktif dari pada fasif mendengarkan ceramah.
·        Selalu memanfaatkan pengalaman yang telah dimiliki, karena sebagai orang dewasa mereka tidak datang dengan kepala kosong untuk belajar.
·        Lebih menyukai belajar melalui tukar menukar pengalaman dengan sesama orang dewasa atau saling berbagi tanggung jawab.
·        Perencanaan dan evaluasi belajar lebih baik dilakukan dalam batas tertentu anatara guru dan pembelajar.
·        Belajar harus berbuat, tidak cukup hanya mendengkan dan menyerap.

Dengan metode membangun kesadaran dengan menggunakan cara belajar orang dewasa dimungkinkan lebi efektif, dan nilai nilai yang terkandung dalam Tafsir Independensi HMI akan melekat dalam diri kader sampai menjadi alumni nanti.

D.    Aktualisasi Kader Yang Berkualitas Insan Cita Dalam Menyongsong Era Globalisasi
Sesungguhnya kelahiran HmI dengan rumusan tujuan seperti pasal 4 Anggaran Dasar tersebut adalah dalam rangka menjawab dan memenuhi kebutuhan dasar (basic need). Bangsa Indonesia setelah mendapat kemerdeka’an pada tangggal 17 Agustus 1945 guna menformulasikan dan merealisasikan cita-cita hidupnya. Seperti pada dasarnya kita ketahui Tujuan HMI sebagai berikut :
Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala.”
Begitulah yang tertulis dalam Anggaran Dasar Himpunan Mahasiswa Islam Bab III pasal 4 tentang tujuan. Membina insan akademis, sebuah rangkaian diksi yang menunjukkan bahwa HMI melakukan sebuah proses pembinaan terhadap “insan akademis”, atau mahasiswa. Tentu saja ketika berbicara tentang mahasiswa, berarti kita mengarah kepada sebuah sosok iron stock, cadangan pemimpin masa depan, yang harus dituntut kemampuannya. Dengan dasar berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, berpikir rasional, obyektif, dan kritis.
Sebuah kritik cukup tajam di lontarkan Benyamin Lakitan sekretaris menteri negara riset dan teknologi. Tingkat pengangguran kelulusan perguruan tinggi semakin meningkat akibat jebakan pendidikan. Mereka di biarkan menamatkan kuliahnya, tetapi sulit mendapatkan pekerja’an. “Upaya mencetak makin banyak tenaga terdidik memang penting, tetapi relevansi pendidikan jauh lebih penting,”.
Insan pencipta, dalam sebuah pengertian dalam arti kata insan pencipta adalah sesosok manusia yang mau dan mampu melakukan hal-hal tertentu yang ketika dibutuhkan ia menjadi sebuah solusi yang menjawab tantangan zaman. Sesosok insan yang sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain, yang lebig dari sekedar yang ada. Insan pencipta yang akan mau dan mampu untuk melakukan hal-hal baru dalam masyarakat yang kemudian dengan didasari oleh semangat dan keinginan untuk beribadah kepada Allah. Spirit Misi HMI adalah spirit trilogi misi Islam, yaitu :
“Hendaknya diantara kamu ada umat yang melakukan da’wah ila al khair, amar makruf dan nahi mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang bahagia (Q.S. 3: 104)”
    Al khair = “kebajikan universal”
    Al makruf = “yang telah diketahui” (sebagai benar, hukum/kebaikan)
    Al munkar = “yang diingkari” (oleh hati nurani)
Semangat dalam berdakwah semangat dalam menyeru kepada yang makruf dan meninggalkan yang mungkar ini yang sekarang mulai meredup, kader HMI mulai terperangkap dengan serbuan informasi. Maka dari itu kembali kepada semangat yang merujuk pada tiga hal di atas. Yaitu kebajikan universal, kebajikan yang kemudian menyentuh kesetiap lini kehidupan, tanpa pandang bulu, sebagai pengaplikasian “Islam rahmatan lil ‘alamin”.
Selaras ketika kita berbicara Islam dan dunia global, ketika umat Islam yang selama ini dicitrakan buruk, era ini adalah era yang tepat untuk menjawab citra buruk tersebut menjadi islam yang dapat diserukan keberbagai penjuru dunia dengan “Al khair” sangat penting. Diselaraskan dengan kader HMI yang mulai sekarang harus kembali kepada ghirah ayat diatas. Dalam himne HMI kata Bahagia menjadi akhir dalam lagu himne, selaras dengan ayat diatas, maka kata bahagia menjadi kunci dalam setiap perjuangan. Bahagia menjadi sebuah diksi yang begitu kuat, “berjuanglah, maka kau akan mendapatkan kebahagiaan dari hasil perjuanganmu” berbahagia menjadi puncak dari setiap amal, maka kepada setiap kader HMI berjuanglah, maka akan kau dapatkan kebahagiaan. Insan pencipta yang akan berbahagia dengan hasil karyanya.
Tujuan HMI selanjutnya adalah insan pengabdi, ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau sesama umat, seruan kebajikan universal dan sadar sebagai kader dan khalifah fil ard. Seorang insan akademis, pencipta dan mengabdi dan dengan sungguh-sungguh mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan ilmunya ke sesama[12].
Tidak ada definisi yang baku dan standar mengenai tentang globalisasi tetapi menurut freudman,globalisasi mempunyai tiga dimensi, Dan di era global saat ini yang begitu mementingkan kepentingan individu diatas kepentingan kelompok atau khalayak banyak adalah sesuatu yang sangat langka, apalagi ketika kita melihat kenyataan, bahwa sekarang ini kepragmatisan dan keapatisan lebih berbahaya dari pada behaya merokok. Ketika merokok yang terbahayakan adalah diri sendiri dan orang sekitar, maka bahaya dari kepragmatisan dan keapatisan adalah lingkungan sosial yang begitu luas, ketika semua manusia sibuk dengan dirinya sendiri, selain ia kehilangan lingkungan sosial ia juga kehilangan hakikat hidup sebagai khalifah di bumi. Selain ia mengkhianati lingkungan sosial ia juga menghianati amanah Allah SWT. Sangat berbahaya, kemudian mengapa ini menjadi penting hakikat dari insan pengabdi. Sebagai mahkluk sosial, manusia tidak mungkin memenuhi kebutuhan kemanusiaannya dengan baik tanpa berada ditengah sesamanya dalam bentuk-bentuk hubungan tertentu. Maka dalam masyarakat itulah sikap sebagai insan akademis, pencipta, pengabdi diwujudkan.namun yang perlu banyak diperhatikan adalah setiap manusia mempunyai kemerdekaan pribadi, akan timbul banyak perbedaan-perbedaan antara suatu pribadi dengan lainnya. Maka dari itu seorang kader HMI harus dapat menyeimbangkan diantara diri sendiri, masyarakat juga misi yang diemban sebagai kader.
Pemenuhan suatu bidang kegiatan guna kepentingan masyarakat adalah suatu keharusan, sekalipun hanya oleh sebagian anggota saja. Di-era global ini menjadi sebuah tantangan yang sangat besar ketika sebuah kesadaran akan pengabdian diri kepada masyarakat mulai untuk digeliatkan lagi. Tantangan kepada individu kader itu sendiri maupun tantangan kepada HMI mau, mampu dan dapat bertahankah dari godaan ke-pragmatisan juga ke-apatisan Namun sejalan dengan semboyan insan akademis, pencipta, dan pengabdi, dalam kehidupan yang teratur tiap-tiap kader harus berjuang dan diberi kesempatan untuk mengembangkan kecakapannya melalui aktifitas dan kerja yang sesuai dengan kecenderungannya dan bakatnya.
Insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam. Bernafaskan Islam, islam ditempatkan, ditempat dimana ia menjadi sesuatu yang melekat sangat kuat dan penting. Sebagai makluk hidup, tentu saja bernafas, maka seorang akan mati, begitu pula dengan bernafaskan Islam. Tanpa diperintahpun, Islam selalu akan ada dalam setiap langkah yang diambil. Islam menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kader. Ajaran Islam menjadi Unity personality yang tak terpisahkan, seperti nafas yang selalu ada dalam tiap detik yang dilewati oleh makhluk hidup. Sehingga rasa susah dalam hatinya dalam setiap perjuangan tidak dirasakan, yang ada hanya rasa bahagia seperti yang termaktub dalam surat diatas.
Kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT. Sebuah rasa taqwa kepada Allah yang ditujukan melalui rasa tanggung jawab kepada Allah sebagai khallifah di bumi melalui mewujudkan tatanan masyarakat yang adil dan makmur. Keadilan dan kemakmuran dua hal yang tidak terpisahkan, ketika kita berbicara tentang sebuah keadilan dinegeri ini, maka itu adalah barang mahal yang sangat sulit didapatkan. Bila keadilan belum dapat ditegakkan sampai kapanpun kemakmuran hanya akan menjadi impian semu. Rasa solidaritas dinegeri ini sangat kecil, rasa solidaritas hanya timbul setelah bencana diliput media, setelah kemiskinan mencekik hidup khalayak banyak. Seseorang tidak akan memikirkan orang lain ketika kepentingannya sendiri belum tercukupi, inilah mengapa keadilan akan sangat penting.
Keadilan adalah sebuah aspek penting dalam hidup ini, kerena adil merupakan satu dari Asmaul Husna; al-adlu atau maha adil. Ini yang akan kemudian menjadi penyebab kemakmuran. Tanpa keadilan maka tidak aka nada kemakmuran, tapi bila sebuah Negara sudah adil maka kemakmuran akan mengikuti. Seperti yang tertulis dalam sejarah tentang keadilan yang diciptakan dalam pemerintahan Rosulullah, maka kemakmuran akan senantiasa melingkupi masyarakatnya, lalu ridho Allah SWT menghiasi kehidupan penduduknya.
Manusia akan merasakan akibat amal perbuatannya sesuai dengan ikhtiar Semakin seseorang bersungguh-sungguh dalam kekuatan yang bertanggung jawab dengan kesadaran sebagai insan akademis pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam yang terus menerus mewujudkan akan tujuan dalam membentuk masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah semakin ia mendekati tujuan.
Ketika kita berbicara HMI, maka telah lengkap apa yang ada didalamnya, dengan tujuan HMI maka Indonesia adil makmur bukanlah impian. Namun kemundurun sapai saat ini masih terjadi begitu kuat di HMI sendiri. Maka dibutuhkan kerja kerasbegi para keder. Mengoptimalkan fungsi HMI akan menjawab krisis SDM yang saat ini dialami oleh bangsa tercinta ini. Arus globalisasi memag tidak dapat ditolak, namun bila SDM bangsa ini mampu, maka jati diri bangsa tidak akan terombang-ambing ditengah gerusan arus Globalisasi.











BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas di simpulkan bahwa di dalam organisasi khususnya di dalam organisasi HMI harus memiliki kuantitas kader karena Organisasi, apapun itu mutlak mensyaratkan kaderisasi. Kecuali bila organisasi anda adalah organisasi diri sendiri, yang anggotanya anda sendiri. Karena kaderisasi merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Dan para kader HMI haruslah sadar akan irinya sebagai manusia yang memiliki tanggung jawab kepada Allah SWT, maka dari itu tidak hanya adanya kuantitas tapi harus adanya kualitas di setiap diri para kader HMI dan di atas kita sudah membahas tentang kualitas kader HMI itu seperti apa dan harus bagaimana? Kualitas kader HMI itu sudah dirumuskan dalam (pasal 5 AD HMI), Tujuan HMI adalah “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”,  Dari tujuan tersebut dapat dirumuskan menjadi lima kualitas insan cita, yakni kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta, kualitas insan pengabdi, kualitas insan bernafaskan Islam, dan kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Berarti kalau kita sudah mengetahui tentang apa itu kualitas insan cita HMI berarti setiap para kader harus memiliki kualitas tersebut dan kalau para kader sudah memiliki kualitas insan cita haruslah mereka dapat mengaktualisasikan dirinya di dalam era globalisasi sa’at ni maupun dapat menyongsong era globalisasi yang akan datang, setelah kita mengetahui tentang era globaisasi sa’at ini pastilah kader HMI harus bahkan wajib untuk dapat mengaktualisasikan dirinya di era globalisasi ni, karena apa? Karena kader HMI yang berkualitas insan cita bisa di katakan  sebagai tulang punggung peradaban ini, karena para kader yang mempunyai kualitas ini sudah mempunyai bekal dan pikiran yang sangat matang dan insya’allah di ridloi oleh Allah SWT, dan para kader haruslah sadar untuk dapat mengaktualisasikan dirinya dalam menyongsong era globalisasi yang lebih sejahtera adil makmur yang di ridloi oleh Allah SWT dan sebagaimana yang di cita-cita kan oleh HMI.

B.     Saran
Di harapkan para kader sadar untuk dapat membuat dirinya berkualitas insan cita HMI, dan jangan hanya kuantitas saja yang di soroti tapi kualitas kader harus sangat sangat sangat di soroti karena para kader yang berkualitas insan cita HMI harus dapat mengaktualisasikan dirinya untuk menyongsong era globalisasi.























DAFTAR PUSTAKA

Dr. Ir. Erman Suparno, MSi., MBA. 2009. “National Manpower Strategy (Strategi Ketenagakerja’an Nasional)” Jakarta: Kompas.
Adnan Buyung Nasution. 1999. Federalisme Untuk Indonesia. Jakarta : Kompas.
            Dr. Hj. Erni  Rernawan, S.E., M.M. 2011. Organization Culture, Budaya Organisasi Dalam Perspektif Ekonomi Dan Bisnis, Bandung: Alfarbeta.
Drs. H. Malayu, S.P. Hasibuan. 2005. ”Organisasi Dan Motivasi, Dasar Peningkatan Produktivitas”. Jakarta: Bumi Pustaka.
Nabil Abdurahman 31 Oktober 2009, Peranan Pemuda Indonesia dalam Pergerakan Kemerdekaan”, Wordperss.
Thomas I, Friedman. 2002. Memahami Globalisasi”. Bandung: lexus dan pohon zaitun.



 



[1] _Philipus Vembrey Hariadi. Antara Kualitas Dan Kuantitas. Surabaya : Pustaka Alam. 2013. Hlm 1
[2] _Adnan Buyung Nasution. Federalisme Untuk Indonesia. Jakarta : Kompas. 1999. Hlm 33
[3] _Erman Suparno. National Manpower Strategy. Jakarta: Kompas, 3 November 2008. Hlm 3
[4] _Dr. Hj. Erni  Rernawan, S.E., M.M, Organization Culture, Budaya Organisasi Dalam Perspektif Ekonomi Dan Bisnis, Bandung: Alfarbeta, 2011, Hlm 15
[5] _ Drs. H. Malayu, S.P. Hasibuan, Organisasi Dan Motivasi, Dasar Peningkatan Produktivitas, Jkarta: Bumi Pustaka, 2005, Hlm 25
[6] _Hasil kongres HMI XXVII. Tema: Sinergi HMI untuk Indonesia bermartabat. Hlm 60
[7] _Supriadi. 2002. Untuk sang master HMI. Padang: Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Padang. Hlm 39
[8]- Hmikoeningan, Kualitas-Insan-Cita, kuningan: wordpress, 2009 Hlm 1
[9] _H.A. Khisni, S.H. ,M.H. Hukum Islam, Semarang: unissula perss ,2013 Hlm 1
[10] _ Drs. Ig. Wursanto, Dasar-Dasar Ilmu Organisasi, Yogyakarta: Andi Yogyakarta, 2002, Hlm 52
[11] _ Nabil Abdurahman, Peranan Pemuda Indonesia dalam Pergerakan Kemerdekaan, Wordperss: 31 Oktober 2009 Hlm 1
[12] _Thomas I, Friedman, Memahami Globalisasi: lexus dan pohon zaitun, Bandung: 2002 Hlm 3

No comments:

Post a Comment